IESR: Penurunan emisi GRK transformasikan ekonomi menuju rendah karbon

  • Whatsapp
banner 468x60

dekarbonisasi sistem energi membawa manfaat ekonomi lebih besar

Bacaan Lainnya

banner 300250

Jakarta (ANTARA) – Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan persoalan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) seharusnya dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan transformasi ekonomi menuju ekonomi rendah karbon.

“Berdasarkan kajian kami berjudul Deep decarbonization of Indonesia’s energy system, dekarbonisasi mendalam pada sistem energi di tahun 2050 justru membawa manfaat ekonomi yang lebih besar,” kata Fabby dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu.

Ekonomi rendah karbon adalah ekonomi yang tidak banyak menggunakan sumber energi yang mengeluarkan karbon dioksida, sehingga ekonomi tersebut juga tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca ke biosfer.

Fabby menuturkan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat melalui terciptanya peluang industri baru sehingga dapat menyerap tenaga kerja yang lebih besar.

Selain itu, harga energi Indonesia akan lebih terjangkau dari pemanfaatan teknologi energi terbarukan yang lebih murah serta udara yang lebih bersih.

Baca juga: Sektor kehutanan miliki porsi terbesar penurunan emisi gas rumah kaca

Baca juga: WALHI: Indonesia perlu tingkatkan penurunan target emisi GRK

Menurut dia, ambisi iklim yang selaras dengan Perjanjian Paris akan mengurangi ancaman bencana hidrometeorologi sebagai konsekuensi dari meningkatnya suhu bumi melebih 1,5 derajat Celsius.

Sementara aktivis dari Extinction Rebellion Indonesia Melissa Kowara mengatakan perlunya peningkatan literasi masyarakat mengenai perubahan iklim sehingga bisa menggalakkan kegiatan yang mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengatasi dampak perubahan iklim.

Selain itu, kebijakan terkait iklim harus terintegrasi dan akses informasi tentang perubahan iklim harus ditingkatkan sehingga dapat membuat upaya mitigasi perubahan iklim di Indonesia berjalan cepat.

Isu lingkungan dan perubahan iklim harus semakin didekatkan dengan masyarakat sehingga bisa menyentuh kesadaran dan membangkitkan upaya berkolaborasi bersama untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Peningkatan pemahaman masyarakat terhadap persoalan iklim juga harus dilakukan dengan membahasakannya sesuai konteks lokal sehingga bisa dipahami secara komprehensif oleh seluruh lapisan masyarakat.

Baca juga: RI optimalkan potensi mangrove capai target emisi gas rumah kaca

Baca juga: KLHK: Multiusaha kehutanan jadi kunci capai target nol emisi GKR

 

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Source link

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *