Perusahaan Startup dalam Pusaran Pencari Kerja

  • Whatsapp
banner 468x60

Bekerja di perusahaan rintisan (startup) kerap dipandang sebagai kesempatan yang menantang bagi seseorang yang baru masuk ke dunia kerja. Mereka akan dapat membuat sesuatu yang hebat bagi startup tempat mereka bekerja.

Karena startup bersifat dinamis, orang yang baru masuk ke dunia kerja akan menganggap mereka berpotensi membuat sesuatu yang hebat bagi perusahaan rintisan yang dinamis tersebut.

Pada 2019, laporan survei pemuda ASEAN yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa kebanyakan generasi muda di Asia Tenggara ingin bekerja di startup. Berdasarkan survei tersebut, terdapat 31,4 persen pemuda yang bekerja atau mendirikan startup. Ke depannya, sebanyak 33,1 persen ingin bekerja atau mendirikan startup.

Menariknya, Indonesia menjadi negara yang generasi mudanya paling ingin bekerja atau mendirikan startup. Lebih rinci, sebesar 34,1 persen tengah bekerja atau mendirikan startup dan 35,6 persen ingin melakukannya di masa depan.

WEF menduga fenomena tersebut karena banyak akhir-akhir ini, banyak startup berstatus unikorn yang menginspirasi anak muda di Indonesia.

Namun, pandemi COVID-19 memengaruhi seluruh sektor pasar kerja. Mengutip dari Forbes, bekerja di startup memang lebih berisiko dibanding perusahaan besar. Hanya 56 persen startup yang bertahan sampai tahun kelima mereka.

Meskipun demikian, banyak startup yang berkembang pesat di tahun 2020. Startup tersebut dapat memenuhi tuntutan realitas ekonomi baru. Misalnya, Zoom berhasil meningkatkan jumlah pelanggan mereka sebesar 354 persen secara year on year (YoY) pada Q1 2020.

Oleh karena itu, dari realitas ini, startup tidak berisiko tetapi merupakan bagian penting dari pemulihan ekonomi serta memungkinkan orang yang baru masuk ke dunia kerja untuk bergabung.

Startup Merdeka, Program yang Fasilitasi Mahasiswa untuk Terus Berinovasi

Startup yang paling banyak dicari oleh pekerja

LinkedIn merilis daftar perusahaan rintisan (startup) terbaik yang bertajuk “LinkedIn Top Startups 2021: The 15 Indonesia companies on the rise” pada Rabu (22/9/2021). Daftar tersebut memuat daftar startup yang paling banyak dicari oleh pekerja di LinkedIn.

Peringkat dalam daftar ini disusun berdasarkan empat pilar, yaitu:

  • Pertumbuhan karyawan,
  • Minat pencari kerja,
  • Terlibatan anggota antara perusahaan dan karyawannya, dan
  • Seberapa baik startup tersebut dapat menarik karyawan dari daftar perusahaan terbaik milik LinkedIn.

Agar dapat masuk ke dalam daftar, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi. Adapun syarat tersebut adalah startup harus berusia maksimal 7 tahun, memiliki setidaknya 50 karyawan, berstatus swasta, dan berkantor pusat di Indonesia.

Dalam laman web resminya, startup disebut sebagai tempat untuk mencari ide dan inovasi baru. Daftar yang dibuat pertama kali di Indonesia ini diharapkan menjadi rujukan untuk menemukan startup yang perlu diminati. Hal itu karena startup yang masuk daftar ini dianggap berhasil menarik investasi, karyawan, dan perhatian pada 2021.

Dari 15 startup yang paling banyak dicari pekerja di LinkedIn, kami kerucutkan menjadi 5 besar, berikut ulasannya.

5 Startup paling banyak dicari pekerja di LinkedIn | GoodStats
info gambar
Jajaran Startup Indonesia yang Masuk Daftar Forbes Asia 100 To Watch

1. Sociolla

Sociolla menempati peringkat teratas versi LinkedIn, startup ini merupakan pemain utama dalam industri eCommerce kecantikan dan perawatan pribadi di Indonesia. Startup dengan kategori beauty-tech ini meluncurkan inisiatif “Love Local” sebagai bentuk dukungan kepada merek lokal Indonesia selama pandemi.

Tak hanya itu, Sociolla juga memberikan dukungan moral dan perlindungan terhadap karyawan dan keluarganya yang terdampak selama pandemi melalui inisiatif #GenPinkForYou. Adapun dukungan tersebut seperti pemberian layanan konsultasi 24 jam penuh dalam seminggu, pemberian care package dalam bentuk multivitamin, konsultasi dengan corporate doctor, serta mencarikan alat medis, darah, dan rumah sakit untuk keperluan perawatan dan lain sebagainya.

Induk perusahaan Sociolla, Social Bella, juga tumbuh pesat sejak berdiri enam tahun lalu. Saat ini, Social Bella telah memiliki lima unit bisnis, yaitu SOCO, Beauty Journal, Sociolla, Lilla By Sociolla, dan Brand Development serta diperkirakan telah melayani kebutuhan sekitar 42 juta pengguna selama 2020.

2. Kopi Kenangan

Posisi selanjutnya diisi Kopi Kenangan, perusahaan ini dianggap sukses mengisi ceruk kesenjangan harga antara kopi mahal dari ritel internasional dan kopi instan kemasan yang disajikan di warung kopi. Dimulai dari menjual kopi dan teh dalam ruang ritel yang kecil, Kopi Kenangan kini telah memiliki lebih dari 532 gerai di 32 kota di Indonesia.

Induk perusahaan Kopi Kenangan, yaitu Kopi Kenangan Group terus berinovasi menghadirkan ragam hidangan untuk disantap dengan segelas kopi. Misalnya adalah roti dari merek Cerita Roti dan ayam goreng dengan merek Chigo.

3. Sayurbox

Sayurbox merupakan modernisasi dari rantai pasokan makanan segar. Startup ini berupaya menyelesaikan masalah ketidakpastian harga makanan segar di Indonesia.

Sejak beroperasi pada 2017, Sayurbox fokus untuk menghadirkan sayur, buah, dan daging yang segar dan sehat melalui kerja sama dengan petani dan mitra. Pada 2020, startup ini berhasil menggaet 1.000 petani di beberapa daerah, termasuk Surabaya dan Bali.

Sayurbox kini telah mengeluarkan fitur terbaru guna memudahkan konsumen dalam mendapatkan produk segar langsung dari petani, produsen, dan pemasok lokal, yaitu Sayurtunai, Sayurkilat, dan Sayurpoin.

4. Ajaib

Ajaib merupakan pialang saham terbesar keempat di Indonesia berdasarkan frekuensi perdagangan pada Maret 2021 dengan lebih dari 10 juta transaksi. Selain itu, Ajaib juga berhasil mengumpulkan 90 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,29 triliun dalam putaran Seri A.

Ajaib memungkinkan penggunanya membuka akun secara daring hanya dalam 5 menit dengan minimum deposit nol rupiah dan biaya transaksi terjangkau serta akses ke analisa komprehensif secara gratis.

5. Flip

Terakhir, posisi ke-5 diisi aplikasi yang tengah naik daun bernama Flip. Startup ini merupakan aplikasi yang memungkinkan pelanggan mengirim uang ke seluruh bank di Indonesia tanpa biaya transaksi apa pun. Selain itu, Flip juga memiliki fitur remitansi (transfer uang lintas negara) ke 12 negara di dunia.

Sejak berdiri pada 2015, Flip mengklaim telah berkembang pesat belakangan ini hingga sekarang memiliki jumlah pengguna mencapai 6 juta orang dan sudah memproses triliunan rupiah transaksi tiap bulannya.

Menariknya, ketiga founder Flip, yaitu Rafi Putra Arriyan, Ginanjar Ibnu Solikhin, dan Luqman Sungkar masuk ke dalam daftar Forbes 30 under 30 Asia 2021. Mereka dianggap mampu memberikan terobosan dalam kategori Finance & VC.

5 Kota dengan Ekosistem Startup Terbaik di Asia Tenggara 2021



Source link

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *