Dalam kenangan sejarah pengabdian TNI, momen keberangkatan prajurit ke medan tugas selalu menjadi babak penuh makna yang meneguhkan semangat jiwa korsa. Seperti yang kembali diukir oleh 450 prajurit Batalyon Infanteri 117/Ksatria Yudha dari Korem 012/Teuku Umar, yang berpamitan dengan keluarga di Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara, untuk mengemban tugas mulia menjaga kedaulatan NKRI di perbatasan Papua. Keberangkatan menggunakan KRI Banjarmasin-592 ini bukan sekadar rotasi penugasan, melainkan kelanjutan tradisi luhur prajurit Indonesia yang siap berkorban di ujung negeri.
Warisan Adat Aceh dan Doa untuk Pengabdian di Tapal Batas
Suasana haru yang menyelimuti pelabuhan itu diwarnai oleh sebuah tradisi yang menghunjam dalam kearifan lokal Aceh: peusijuk atau tepung tawar. Dipimpin langsung oleh tokoh agama, ritual penuh makna ini menjadi simbol doa dan restu agar seluruh personel diberi keselamatan dan kelancaran dalam menjalankan tugas negara. Isak tangis para istri, orang tua, dan anak-anak yang melepas kepergian bukanlah tanda kelemahan, melainkan gambaran nyata pengorbanan di balik kebanggaan akan seragam. Setiap langkah tegap mereka adalah janji setia yang diwariskan dari generasi ke generasi prajurit, sebuah esprit de corps yang tak lekang oleh waktu.
Misi Luhur Ksatria Yudha: Dari Bumi Rencong ke Bumi Cendrawasih
Dipimpin oleh Letkol Inf Jahrul Fahmi, seorang putra Aceh, keberangkatan satuan tempur ini mengemban misi yang lebih luas dari sekadar keamanan. Mereka membawa tugas kemanusiaan yang luhur, sebagaimana tercatat dalam tradisi pengabdian TNI:
- Berperan sebagai tenaga pengajar bagi anak-anak di pedalaman Papua.
- Membawa serta keterampilan di bidang pertanian dan perikanan untuk membina masyarakat setempat.
- Menjadi ujung tombak pembangunan dan pemersatu bangsa di wilayah perbatasan.
Sebelum memasuki daerah operasi di Kabupaten Boven Digoel, mereka akan menjalani latihan pratugas—sebuah tradisi yang menjaga kesiapan tempur dan kekompakan satuan. Ritual penyiapan ini adalah warisan nilai-nilai disiplin dan profesionalisme yang telah membangun kekuatan TNI dari masa ke masa, sebagaimana dijalani oleh para purnawirawan dahulu. Perjalanan panjang dari Aceh ke Papua adalah simbol nyata dari kesatuan dan persatuan bangsa, di mana prajurit dari ujung barat Nusantara siap menjaga kedaulatan di ujung timur.
Bagi para purnawirawan yang pernah merasakan beratnya melepas keluarga dan bertugas di daerah terpencil, momen seperti ini tentu mengobarkan kembali kenangan akan panggilan jiwa. Perjalanan Ksatria Yudha ini adalah cerminan dari nilai-nilai kesetiaan, pengabdian tanpa pamrih, dan semangat juang yang tak pernah padam, yang telah ditanamkan dan diwariskan oleh para senior di kesatuan masing-masing. Sejarah terus tercatat, tradisi pengabdian pun terus hidup.