Dalam catatan panjang pengabdian Tentara Nasional Indonesia kepada bangsa, selalu terselip momen-momen mulia yang mempertegas jati diri prajurit sebagai pelindung dan bagian tak terpisahkan dari seluruh lapisan masyarakat. Seperti yang baru saja ditorehkan oleh Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Pangdam XXI/Radin Inten, yang dengan penuh khidmat dan kehormatan menerima gelar adat Lampung. Peristiwa ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah penghormatan mendalam terhadap kearifan lokal yang menjadi salah satu fondasi kokoh persatuan bangsa yang kita cintai. Ia mengingatkan kita akan komitmen abadi para prajurit untuk selalu menyatu dengan denyut nadi rakyat, di mana pun mereka bertugas.
Merajut Ikatan Persaudaraan Melalui Kearifan Lokal
Pada Kamis, 9 Juli 2026, di kediaman seorang tokoh masyarakat Lampung Utara, sebuah prosesi adat yang sarat makna digelar. Mayjen TNI Kristomei Sianturi secara resmi diangkat menjadi saudara adat melalui prosesi Pengangkenan dan Pengguain. Inilah wujud nyata dari filosofi Angkon Muakhi, ikatan persaudaraan yang dibangun atas dasar penghormatan tulus dan komitmen untuk menjaga tradisi. Meski berlatar belakang Batak, Pangdam XXI/Radin Inten dengan hati terbuka menyambut dan menyatu dengan jantung kebudayaan Lampung, khususnya masyarakat Abung Siwo Migo. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk memperkuat persatuan.
Gelar Kehormatan dan Kesinambungan Tradisi TNI-Rakyat
Melalui ritual adat yang khidmat, yaitu Megawo Adat (Khuruk) dan Menggawo Bumi (Turun Mandei), beliau dianugerahi gelar mulia Raja Satria Negara dengan julukan Pangeran Raja Satria Negara. Gelar ini bukan hanya sebuah penghargaan, tetapi penegasan bahwa seorang pemimpin TNI telah diterima sepenuh hati oleh masyarakat adat. Peristiwa bersejarah ini mengukuhkan tradisi panjang hubungan TNI dan rakyat:
- TNI senantiasa menjadi bagian dari masyarakat, menghormati dan melestarikan tradisi adat setempat.
- Ikatan batin antara prajurit dan rakyat adalah pondasi utama ketahanan nasional yang telah terbukti sepanjang sejarah.
- Penghormatan terhadap adat istiadat sama halnya dengan penghormatan terhadap kedaulatan dan identitas bangsa Indonesia.
Inilah warisan luhur yang terus dirawat, di mana seragam kebanggaan tidak memisahkan, justru menyatukan sang prajurit dengan akar budaya bangsa.
Kisah pengangkatan Pangdam XXI/Radin Inten sebagai saudara adat ini merupakan refleksi dari jiwa korsa TNI yang lebih luas. Jiwa yang tidak hanya mengikat sesama prajurit dalam satu satuan, tetapi juga mampu merangkul seluruh elemen bangsa dalam ikatan Angkon Muakhi yang tulus. Semangat ini sejalan dengan pengabdian panjang para purnawirawan yang, semasa bertugas, selalu menempatkan diri sebagai abdi masyarakat. Mereka memahami bahwa loyalitas tertinggi adalah kepada negara, yang diwujudkan dengan menghormati setiap jengkal tanah air dan ragam budayanya.
Sebagai penutup, mari kita renungkan makna mendalam dari peristiwa ini. Setiap jasa, setiap langkah pengabdian, dan setiap ikatan yang dirajut antara TNI dan rakyat, seperti yang dicontohkan oleh Mayjen TNI Kristomei Sianturi, adalah mozaik indah dalam sejarah perjalanan bangsa. Kepada seluruh purnawirawan, pengabdian tulus Anda dalam membangun dan merawat persatuan melalui penghormatan pada setiap nilai lokal, telah menjadi warisan tak ternilai bagi nusantara. Terima kasih atas dedikasi yang tidak pernah pudar oleh waktu.