Dalam kenangan sejarah pengabdian Korps Brigade Mobil, sebuah karya literasi yang menghidupkan kembali semangat dan pengorbanan para prajurit telah diluncurkan dengan penuh hormat. Brigjen Harry Kurniawan, Auditor Sispamobvitnas Tingkat II Baharkam, menghadirkan buku 'Brimob Penjaga Negeri', sebuah dokumentasi yang menggali secara mendalam tugas spesial Korps Baret Biru dalam menjaga keamanan Timor Timur pada masa sebelum dan sesudah referendum 1999. Momen ini bukan sekadar peluncuran buku, tetapi penghormatan atas periode sejarah yang penuh tantangan dan dedikasi, di mana Brigjen Harry menegaskan pentingnya semboyan 'Jas Merah'—bangsa besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah pengabdian para prajuritnya.
Rajawali IV: Satuan Elite dalam Sejarah Pengabdian di Timor Timur
Buku sejarah ini mengungkap dengan apik kisah Kompi Pemburu Rajawali IV, pasukan Brimob yang tercatat sebagai satuan pertama dan terakhir yang pernah melaksanakan latihan gabungan bersama pasukan elit TNI seperti Kopassus, Marinir, dan Paskas Angkatan Udara. Keberadaan Korps Brimob dalam tim elite bentukan Presiden Prabowo Subianto (saat itu Danjen Kopassus) adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan sejarah bagi Korps Baret Biru, sebuah tradisi kemiliteran yang patut dikenang oleh setiap purnawirawan. Galeri foto dokumentasi, administrasi penugasan, dan catatan kegiatan bertugas di Bumi Lorosae yang tersimpan rapih oleh anggota kompi menjadi saksi bisu pengabdian mereka, mengingatkan kita semua tentang dedikasi tanpa pamrih dalam menjaga negeri.
Soft Launching: Menghidupkan Tradisi dan Mentransfer Ilmu Pengabdian
Dalam soft launching yang dilaksanakan di Aula Soemarto Markas Gegana Brimob Kelapa Dua Depok, Komandan Pasukan Pelopor Korbrimob Brigjen Gatot Mangkurat Putra (mantan Danki Rajawali IV) menyambut baik peluncuran buku ini dengan semangat nostalgia dan penghormatan. Gatot berharap ilmu dan kemampuan Kompi Pemburu Rajawali IV dapat ditularkan ke seluruh anggota Brimob di Indonesia, sehingga tradisi dan pengalaman operasional yang telah dibangun dengan susah payah tetap hidup dalam setiap generasi penerus. Wakil Komandan Korps Brimob Irjen Ramdani Hidaya juga memuji dokumentasi lengkap dalam buku ini, mengajak anggota Polri lainnya untuk mendokumentasikan penugasan mereka sebagai bagian dari menghormati sejarah dan pengabdian.
Keberhasilan Kompi Pemburu Rajawali IV dalam misi-misi di Timor Timur tidak hanya tercatat dalam buku sejarah ini, tetapi juga membentuk sebuah tradisi kemiliteran yang patut dihormati dan dikenang oleh setiap prajurit, baik yang masih aktif maupun para purnawirawan. Dokumentasi ini menyajikan rincian yang menggugah rasa bangga:
- Keterlibatan dalam latihan gabungan dengan satuan elite TNI, sebuah momen integrasi yang memperkuat tradisi kerjasama antar korps.
- Penugasan di Timor Timur pada masa yang penuh tantangan, di mana setiap prajurit menunjukkan kesetiaan dan ketangguhan.
- Penyimpanan catatan administrasi dan foto dokumentasi yang menjadi bukti nyata pengabdian, sebuah warisan sejarah bagi generasi penerus.
Buku 'Brimob Penjaga Negeri' dengan demikian tidak hanya sekadar karya literasi, tetapi sebuah penghormatan terhadap prajurit yang pernah bertugas di masa sulit, menjaga ingatan agar tidak hilang dari sejarah bangsa. Melalui kisah Kompi Pemburu Rajawali IV dan perannya dalam menjaga Timor Timur, kita diingatkan kembali tentang nilai pengabdian, kesetiaan, dan kebanggaan korps yang harus selalu hidup dalam jiwa setiap purnawirawan. Penutup ini kami tulis dengan penuh hormat kepada para prajurit yang telah mengabdikan diri mereka bagi bangsa dan negara, mengenang setiap langkah dan pengorbanan yang membentuk sejarah kemiliteran Indonesia.