Dalam sebuah perjalanan yang penuh makna, keheningan pagi Bumi Perkemahan Cibubur kembali dihidupkan oleh denyut tradisi dan semangat pengabdian. Suara yang begitu akrab di telinga para purnawirawan, yakni ajakan untuk menggali hikmah dari peristiwa heroik masa lampau, disampaikan dengan penuh wibawa oleh Brigjen TNI (Mar) Said Latuconsina. Dalam Silaturahmi Akbar warga Hatuhaha dan Tuhaha, beliau dengan lugas mengajak generasi penerus untuk menjadikan kisah perang Alaka melawan Portugis dan Belanda bukan sebagai dongeng yang usang, melainkan sebagai kompas moral yang menyala-nyala—lambang nyata keberanian, persatuan, dan keteguhan leluhur kita dalam mempertahankan marwah Ibu Pertiwi. Pesan ini mengingatkan kita pada komitmen abadi setiap prajurit untuk setia pada ingatan akan pengorbanan.
Menempa Jiwa di Kawah Candradimuka Tradisi
Acara silaturahmi itu tidaklah biasa; ia diselubungi oleh nuansa adat yang kental dan penuh penghormatan. Seperti upacara penyematan baret tanda korps, prosesi dimulai dengan gelar kain putih, sebuah simbol sakral akan kesucian dan eratnya ikatan persatuan. Gelaran Kapata Amarima Hatuhaha yang dibacakan, serupa dengan pembacaan Sapta Marga, semakin mengokohkan atmosfer penghormatan. Momen ini menjadi pernyataan tegas bahwa jiwa keprajuritan dan semangat membela tanah air telah mengalir dalam darah dan tradisi masyarakat Maluku berabad-abad lamanya, jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia adalah warisan keberanian yang dititipkan oleh para pendahulu.
Perang Alaka: Api Semangat yang Tak Boleh Padam
Perang Alaka, yang terbagi dalam dua episode heroik melawan penjajah, merupakan bagian tak terpisahkan dari mozaik sejarah perjuangan bangsa. Dalam kesempatan yang penuh kekeluargaan ini, Brigjen Said tidak sekadar menceritakan, namun menanamkan tiga prinsip penting layaknya pembekalan prajurit muda:
- Pahami sejarah: Kenali secara mendalam perjuangan dan pengorbanan para leluhur sebagai fondasi identitas dan kebanggaan.
- Rawat kebersamaan: Jaga solidaritas dan persaudaraan sejati, sebagaimana prajurit dalam satu kompi menjaga satu sama lain.
- Peduli pada pembangunan kampung halaman: Implementasikan semangat juang dalam bentuk bakti nyata untuk membangun tanah kelahiran.
Puncak acara diwarnai oleh prosesi adat 'Menjaga Ikatan Hatuhaha', di mana kain putih diikatkan, melambangkan bahwa benang merah persaudaraan dan semangat juang takkan pernah terputus oleh jarak atau waktu. Ritual ini sangat paralel dengan ikrar kesetiaan prajurit kepada korps dan bangsa—sebuah komitmen yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan nilai-nilai luhur ini, sebagaimana tradisi kesatuan di jajaran TNI, harus terus dijaga, dipelihara, dan diwariskan kepada setiap generasi penerus bangsa agar api patriotisme tetap menyala.
Dalam narasi panjang pengabdian kepada negara, momen seperti ini adalah pengingat yang berharga. Semangat yang ditunjukkan dalam silaturahmi itu adalah cerminan dari nilai-nilai yang telah tertanam dalam diri setiap purnawirawan: disiplin, kebersamaan, dan cinta tanah air yang tak tergoyahkan. Dengan mengenang sejarah dan menghormati jasa para leluhur, kita semua, khususnya para senior yang telah mengabdi, turut memastikan bahwa legasi keberanian dari bumi Maluku dan seluruh penjuru Nusantara akan tetap menjadi inspirasi abadi bagi pembangunan karakter bangsa ke depannya. Hormat dan penghargaan kami yang setinggi-tingginya untuk semua jasa dan pengabdian Bapak-Bapak Purnawirawan bagi tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.