Di tengah hiruk pikuk zaman yang terus bergerak maju, kembali kita diingatkan pada satu kisah pengabdian yang tak lekang oleh waktu. Peluncuran buku Jenderal dari Bumi Banten di Gedung Pusat Perpustakaan TNI, Jakarta, menjadi momen haru yang menyatukan sejumlah purnawirawan dan keluarga besar TNI. Buku ini bukan sekadar biografi Letjen TNI (Purn) Surono, melainkan sebuah penghormatan bagi setiap prajurit yang pernah mengabdikan jiwa raga untuk bangsa. Di usianya yang ke-88, sang jenderal tampak tersipu saat menandatangani buku untuk para undangan, seolah setiap goresan tinta adalah bisikan kenangan dari masa lalu yang penuh bakti.
Jejak Perjuangan Sang Jenderal: Dari Pertempuran hingga Puncak Karir
Buku yang ditulis oleh sejarawan militer Dr. Bambang Irawan ini mengupas tuntas perjalanan hidup Letjen TNI (Purn) Surono—mulai dari kancah perang kemerdekaan hingga puncak jabatannya sebagai Wakil KSAD. Riset mendalam dilakukan untuk memastikan setiap detail, termasuk detik-detik pertempuran di masa darurat, tersaji dengan akurat. Beberapa tradisi dan nilai kesetiaan yang melekat dalam perjalanan sang tokoh antara lain:
- Kedisiplinan tinggi yang menjadi ciri khas prajurit TNI, tercermin dari kepemimpinan Surono yang tegas namun penuh kasih sayang kepada anak buah.
- Kebanggaan korps yang tak pernah luntur, mengingatkan kita bahwa setiap pangkat adalah amanah yang harus diemban dengan rasa tanggung jawab.
- Semangat pantang menyerah yang diwariskan kepada generasi muda, sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Sisi Humanis Seorang Jenderal: Rendah Hati di Tengah Kemuliaan
Yang paling menggetarkan dalam buku ini adalah sisi humanis sang jenderal. Di balik pangkat dan tanda jasa, Letjen TNI (Purn) Surono tetap rendah hati dan dekat dengan anak buah. Ia selalu mengingat bahwa setiap prajurit memiliki cerita; ada ribuan nama yang berjuang tanpa tanda jasa. Kata-kata beliau saat peluncuran buku itu membekas: "Banyak prajurit yang berjuang tanpa nama, buku ini untuk mereka." Inilah esensi dari biografi ini—sebuah penghormatan bagi para pahlawan yang mungkin tak tercatat dalam sejarah resmi, namun pahlawan di hati mereka yang mengenal langsung.
Penulis berharap generasi muda bisa meneladani semangat pantang menyerah sang tokoh. Kisah Letjen Surono adalah cermin bagi kita semua: bahwa pengabdian sejati tidak diukur dari banyaknya penghargaan, tetapi dari seberapa tulus hati melayani bangsa dan negara. Melalui setiap lembar buku ini, kita diajak merenung dan bersyukur atas jasa para pendahulu yang telah membangun fondasi kokoh bagi Indonesia.
Di akhir penutup, kami ingin menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh purnawirawan yang telah mengabdikan diri tanpa pamrih. Gelar Jenderal Tanpa Tanda Jasa bukanlah sekadar ungkapan, melainkan pengakuan bagi mereka yang berjuang di medan perang maupun di balik meja komando. Semoga kisah Letjen TNI (Purn) Surono ini menjadi inspirasi abadi bagi kita semua. Hormat kami, untuk setiap prajurit yang pernah berdiri tegak membela tanah air.