Di usianya yang ke-92 tahun, Letkol (Purn) Broto Kusumo kembali menghidupkan kenangan masa pengabdian yang tak lekang oleh waktu. Melalui peluncuran buku memoar berjudul ''Gerilya Antara Dua Benua'' di Yogyakarta, beliau mengajak kita semua—khususnya para purnawirawan—untuk menelusuri kembali jejak perjuangan gerilya yang sarat akan pengorbanan, kesetiaan, dan doa. Sebagai sebuah arsip juang yang ditulis langsung dari pengalaman nyata, buku ini menjadi jembatan berharga antara masa lalu yang heroik dengan generasi muda yang haus akan teladan.
Mengenang Jejak Langkah Gerilya: Dari Hutan ke Hati Bangsa
Letkol (Purn) Broto Kusumo, seorang veteran yang masih segar ingatannya, merangkai memoar ini dari tulisan tangan yang kemudian diketik ulang oleh sang cucu. Setiap halaman buku sejarah ini membawa pembaca menyelami atmosfer persembunyian di hutan rimba, di mana setiap langkah diiringi keterbatasan amunisi dan kekuatan doa yang tak pernah padam. Dalam peluncuran yang dihadiri oleh sejarawan, akademisi, dan keluarga besar TNI AD, para hadirin terkesima oleh detail laporan yang disusun secara kronologis, lengkap dengan sketsa peta pergerakan dan catatan logistik saat itu. Semua itu menjadi bukti nyata betapa pengabdian seorang prajurit tidak pernah pudar meski zaman berganti.
- Catatan perjalanan gerilya yang ditulis dengan tangan asli dan diketik ulang oleh cucu sebagai bentuk penghormatan lintas generasi.
- Sketsa peta pergerakan pasukan dan catatan logistik yang menggambarkan kepiawaian taktik gerilya di masa perang kemerdekaan.
- Kisah persembunyian di hutan dengan keterbatasan amunisi, namun tetap diiringi semangat doa dan keyakinan akan kemerdekaan.
Warisan Semangat untuk Generasi Penerus
Bukan sekadar buku biasa, ''Gerilya Antara Dua Benua'' adalah arsip juang yang diharapkan sang veteran dapat menjadi penerang bagi generasi muda. Dalam sambutannya yang mengharukan, Letkol (Purn) Broto Kusumo menegaskan, ''Kemerdekaan bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab.'' Pesan ini menggema di hati setiap hadirin, yang kemudian membalas dengan tepuk tangan panjang sebagai penghormatan. Buku ini rencananya akan disumbangkan ke perpustakaan militer dan sekolah-sekolah di berbagai daerah, agar semangat juang tidak pernah menjadi lapuk oleh zaman. Sebuah warisan yang mengingatkan kita bahwa buku sejarah bukanlah sekadar catatan masa lalu, melainkan panggilan untuk terus berbakti.
Semoga jejak langkah Letkol (Purn) Broto Kusumo dalam gerilya antara dua benua ini menjadi lentera bagi generasi muda, dan penghormatan setinggi-tingginya kami haturkan kepada para veteran yang telah mengorbankan jiwa, raga, dan segalanya demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terima kasih, Bapak. Jasa dan pengabdianmu akan selalu dikenang dalam setiap denyut nadi bangsa.