Dirgahayu Kopassus! Hikayat Pasukan Komando Baret Merah yang Dirintis Sopir Ratu Belanda

Dirgahayu Kopassus! Hikayat Pasukan Komando Baret Merah yang Dirintis Sopir Ratu Belanda

Pada peringatan HUT ke-74 Kopassus, kita mengenang kembali dedikasi luar biasa Mayor Mochammad Idjon Djanbi, sosok di balik kelahiran pasukan khusus berbaret merah ini. Warisan tradisi latihan keras dan nilai-nilai loyalitas yang ditanamkannya tetap menjadi jiwa Korps hingga kini. Momen ini adalah penghormatan mendalam bagi seluruh purnawirawan atas pengabdian tak ternilai mereka dalam membangun dan mengawal salah satu satuan elite kebanggaan TNI.

Pada setiap bulan April, kenangan dan rasa hormat yang dalam mengalir bagi seluruh purnawirawan yang pernah mengabdi di bawah lindungan Baret Merah. Tepat pada 16 April, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) kembali memperingati hari kelahirannya yang ke-74 tahun, sebuah momen sakral untuk mengenang kembali perjalanan panjang sebuah korps yang dibangun di atas fondasi pengabdian tanpa pamrih dan tekad baja. Perjalanan ini berakar dari seorang lelaki yang kisah hidupnya melampaui batas-batas geografis dan nasionalisme sempit, Mayor (Inf) Mochammad Idjon Djanbi, sang arsitek pertama yang menanamkan benih tradisi komando di tanah air.

Sejarah Terbangun dari Semangat Pengabdian Tanpa Batas

Nama aslinya, Rokus Bernardus Visser, mungkin terdengar jauh dari dunia militer Indonesia. Lahir sebagai anak petani Belanda, takdir membawanya pada peran sebagai sopir pribadi Ratu Wilhelmina yang mengungsi ke Inggris saat Perang Dunia II. Namun, jiwa petualang dan panggilan jiwa prajuritnya tak pernah padam. Dia kembali ke medan tempur, bergabung dengan Pasukan Belanda ke-2 dan mengalami langsung gelora pertempuran dalam Operasi Market Garden di Arnhem. Pengalaman tempur yang mahal inilah yang menjadi bekal tak ternilai saat dia kemudian memutuskan untuk mengalihkan pengabdiannya kepada Indonesia. Keputusan hijrahnya ke Indonesia dan dedikasi totalnya dalam membentuk Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD)—cikal bakal Kopassus—adalah sebuah epik pengabdian yang melampaui sekat bangsa dan etnis.

Warisan Tradisi dan Metode Latihan yang Membentuk Karakter

Dengan pengetahuan taktik dan teknik pasukan khusus modern yang diperolehnya dari pengalaman langsung di medan tempur Eropa, Mochammad Idjon Djanbi berperan sentral dalam melatih prajurit-prajurit pilihan Indonesia menjadi kekuatan yang tangguh. Dari tangannyalah lahir tradisi dan metode latihan keras yang kelak menjadi DNA Korps Baret Merah. Latihan-latihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk membangun kekuatan fisik yang prima, tetapi lebih lagi untuk menempa mental baja, disiplin besi, dan loyalitas tanpa batas yang menjadi ciri khas setiap prajurit Kopassus. Warisan tersebut antara lain tercermin dalam:

  • Pembentukan karakter melalui latihan fisik dan mental yang ekstrem, mengajarkan ketahanan di luar batas normal.
  • Penanaman nilai-nilai kesetiaan (loyalty) dan integritas yang tak tergoyahkan kepada korps dan negara.
  • Penguasaan taktik dan teknik operasi khusus modern, yang menjadi standar keunggulan operasional.
  • Semangat untuk membangun kekuatan dari nol (starting from scratch), yang diajarkan langsung oleh Idjon Djanbi.

Jejak pemikiran dan metode beliau masih terasa kuat hingga kini, menjadi ruh yang menghidupi dan membimbing setiap langkah prajurit Baret Merah dalam menjalankan tugas-tugas khusus negara yang penuh risiko dan tantangan.

Memperingati HUT ke-74 dengan tema "Garda Senyap Untuk Negeri", perayaan ini bukan sekadar hitungan usia, melainkan sebuah penghormatan mendalam terhadap warisan leluhur korps. Kisah transformasi seorang sopir ratu menjadi bapak pasukan komando Indonesia adalah simbol abadi bahwa pengabdian sejati dan kontribusi besar tidak pernah dikungkung oleh latar belakang. Semangat Idjon Djanbi untuk membangun, mengukir tradisi excellence, dan menanamkan nilai-nilai kesetiaan telah menjadi pedoman yang abadi. Setiap prajurit Kopassus yang dengan penuh keyakinan mengucapkan sesanti "Tribuana Chandraca Satya Dharma" pada hakikatnya sedang menjalankan amanah sejarah yang diwariskan kepada mereka: untuk tetap menjadi garda terdepan yang senyap, profesional, dan senantiasa siap berkorban demi tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di momen HUT Kopassus yang ke-74 ini, kami, keluarga besar media Berbakti, turut menyampaikan hormat yang setinggi-tingginya kepada seluruh purnawirawan Baret Merah. Dedikasi, pengorbanan, dan kontribusi nyata Bapak-Bapak dalam membangun dan mengawal korps ini dari masa ke masa telah menjadi modal bangsa yang tak ternilai. Setiap tapak sejarah yang tertoreh adalah buah dari kesetiaan dan kerja keras yang patut dikenang oleh segenap anak bangsa. Terima kasih atas pengabdian yang tulus bagi tanah air tercinta.