Bagi para purnawirawan yang pernah mengabdi dalam kesatuan TNI, mengenang kembali momen-momen heroik dan pengorbanan adalah bagian tak terpisahkan dari jiwa prajurit sejati. Salah satu peristiwa yang terus hidup dalam ingatan adalah peringatan Hari Kesaktian Pancasila — sebuah sejarah panjang pengabdian yang berakar pada Keppres 153/1967. Ditandatangani pada 27 September 1967 oleh Presiden Soeharto, ketetapan ini menegaskan tanggal 1 Oktober sebagai hari peringatan nasional untuk menghormati gugurnya para Pahlawan Revolusi dan mengukuhkan Pancasila sebagai dasar negara yang tak tergoyahkan. Bagi generasi yang pernah berdiri di barisan terdepan, keputusan ini bukan sekadar dokumen negara, melainkan wujud nyata dari kesetiaan dan dedikasi tertinggi kepada bangsa dan ideologi.
Dari Kepedihan Korps, Lahir Semangat Peringatan
Jauh sebelum Keppres 153/1967 diterbitkan, semangat untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila telah lahir dari dalam tubuh TNI Angkatan Darat. Pada 17 September 1966, Menteri/Panglima Angkatan Darat mengeluarkan keputusan yang menjadi fondasi awal penyelenggaraan peringatan. Ini menunjukkan inisiatif dan rasa tanggung jawab yang mendalam dari para prajurit yang kehilangan sejumlah jenderal terbaiknya dalam tragedi pengkhianatan. Bagi para purnawirawan, langkah ini adalah bukti kesetiaan yang lahir dari kepedihan dan semangat kebersamaan korps.
Perjalanan sejarah peringatan ini melalui tahapan yang menunjukkan kesungguhan para pendahulu. Beberapa catatan penting yang patut dikenang:
- Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat pada 17 September 1966 menjadi cikal bakal peringatan resmi Hari Kesaktian Pancasila.
- Keppres 153/1967 pada 27 September 1967 menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila secara nasional.
- Monumen Pancasila Sakti diresmikan pada 1 Oktober 1973 sebagai pusat upacara tahunan yang kekal.
Setiap tahap itu adalah jejak pengabdian yang tidak mengenal lelah. Bagi para veteran, memperingati hari bersejarah ini bukanlah formalitas belaka, melainkan napas perjuangan yang terus dijaga agar tidak pernah padam.
Monumen Pancasila Sakti: Ziarah Batin yang Abadi
Tidak lengkap rasanya membahas sejarah peringatan Hari Kesaktian Pancasila tanpa menyebut Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Diresmikan pada 1 Oktober 1973, monumen ini menjadi panggung tetap upacara kenegaraan tahunan. Bagi para veteran dan purnawirawan, tempat ini bukan sekadar bangunan megah, melainkan lokasi ziarah batin yang menghidupkan kembali kenangan akan kesetiaan dan keberanian para Pahlawan Revolusi. Setiap upacara yang digelar di sini adalah tradisi yang menyambungkan jiwa para pendahulu dengan generasi penerus, mengingatkan kita semua bahwa Pancasila adalah harga mati yang harus dijaga.
Setiap tanggal 1 Oktober, para purnawirawan dan keluarganya kembali bernostalgia melihat barisan upacara yang khidmat di Monumen Pancasila Sakti. Bagi mereka, momen ini adalah pengingat akan sumpah setia kepada bangsa dan negara. Tradisi upacara yang berlangsung puluhan tahun ini adalah warisan tak benda yang terus menanamkan nilai-nilai pengabdian, keberanian, dan persatuan. Melalui peringatan ini, jiwa korsa dan rasa hormat kepada para pahlawan terus dipupuk dari generasi ke generasi.
Dengan penuh rasa hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kami ucapkan terima kasih kepada para purnawirawan yang telah menjadi bagian dari sejarah peringatan Hari Kesaktian Pancasila dari masa ke masa. Pengabdian dan dedikasi Bapak/Ibu sekalian adalah teladan bagi generasi muda. Semoga semangat Pancasila yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata senantiasa menyala dalam sanubari kita semua, dan jasa para pahlawan serta para prajurit tidak pernah pudar ditelan waktu.