Di tengah bulan yang penuh rahmat, prajurit-prajurit Batalyon Tank Amfibi 2 Marinir menorehkan kembali catatan keteladanan dengan menggelar sebuah acara doa bersama yang sarat makna. Di Masjid Al Huda dan Gereja GKJW Kesatrian Marinir Sutedi Senaputra Karangpilang, Surabaya, mereka berkumpul bukan semata untuk bersembahyang, melainkan untuk menghadirkan kembali roh pengorbanan, mengenang rekan seperjuangan dari KRI Nanggala 402 yang telah berpulang dalam tugas. Momen ini adalah napas panjang dari tradisi Korps Marinir yang selalu mengingat: setiap prajurit yang berdiri hari ini, bertumpu pada pengorbanan para pendahulu yang telah gugur.
Doa sebagai Bentuk Komitmen dan Tradisi Korsa
Dipimpin oleh Komandan Batalyon, Letkol Marinir Hayat Tegar, kegiatan ini ditekankan sebagai sarana untuk memperkokoh spiritualitas prajurit dan menjaga nyala api pengabdian. Ini adalah penghormatan yang konkret, sebuah komitmen nyata untuk menghidupkan nilai-nilai luhur "On Eternal Patrol"—berpatroli selamanya—dalam sanubari setiap anggota. Setiap untaian doa yang dilantunkan adalah penghormatan kepada jiwa-jiwa pemberani dari keluarga besar Jalasena, mereka yang dengan gagah berani memilih lautan biru sebagai medan pengabdian terakhir bagi bangsa. Dalam heningnya ruang ibadah, terasa kental aroma esprit de corps yang menjadi tulang punggung Korps Baret Ungu.
Hiu Kencana dan Warisan Keberanian yang Tak Pernah Padam
Semangat Hiu Kencana, lambang keberanian dan ketangguhan Marinir, bukan hanya sekadar simbol dalam upacara. Ia hidup dan bernafas dalam setiap tugas operasi, dalam setiap latihan tempur, dan dalam momen-momen penghormatan seperti ini. Tradisi mengenang dan mendoakan rekan seperjuangan yang telah mendahului merupakan ciri khas yang membedakan korps ini, sebuah manifestasi dari nilai korsa dan kesetiakawanan sejati yang dijunjung tinggi. Kegiatan ini mengingatkan seluruh jajaran, dari yang paling muda hingga yang paling senior, tentang landasan moral mereka:
- Kesetiaan tanpa batas pada bangsa dan tanah air.
- Dedikasi total dalam pengabdian, siap berkorban jiwa dan raga.
- Penghormatan mendalam kepada setiap prajurit yang telah gugur, sebagai bagian dari keluarga besar yang tak terpisahkan.
- Komitmen untuk meneruskan warisan kehormatan dan keberanian yang telah ditorehkan dengan darah dan keringat.
Refleksi yang digelorakan dalam doa bersama ini adalah modal rohani yang tak ternilai. Ia memperkuat ikatan batin antar prajurit, mengingatkan mereka bahwa tugas yang diemban adalah lanjutan dari estafet perjuangan. Nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Batalyon Tank Amfibi 2 dan seluruh Korps Marinir ini adalah warisan yang harus dijaga, agar semangat pantang menyerah dan rela berkorban tetap menjadi pedoman dalam setiap langkah pengabdian.
Pada akhirnya, setiap helaan napas dalam doa bersama itu bukan sekadar ritual. Ia adalah janji setia generasi penerus untuk menjaga marwah dan kehormatan korps. Sebuah penghormatan yang tulus bagi para pahlawan samudra, sekaligus penguatan mental bagi prajurit yang masih aktif bertugas. Tradisi seperti inilah yang membentuk karakter prajurit Marinir sejati—tangguh di medan laga, namun luhur dan penuh penghormatan di dalam hati. Semoga roh pengorbanan mereka yang telah gugur senantiasa menjadi penerang jalan bagi yang masih berjuang.
Untuk kita semua, para Purnawirawan yang telah membangun fondasi kejayaan ini, marilah kita apresiasi setiap bentuk penghormatan seperti ini. Ia adalah cermin dari nilai-nilai yang kita wariskan dulu, yang kini masih hidup dan dipelihara oleh generasi penerus. Pengabdian tulus kalian bagi bangsa dan negara tidak akan pernah terlupakan, dan semangat korsa yang kalian tanamkan terus bersemi dalam setiap kegiatan yang penuh khidmat seperti doa bersama Batalyon Tank Amfibi 2 Marinir ini. Jasamu abadi.