Pada setiap 16 April, di sanubari setiap prajurit dan purnawirawan Komando Pasukan Khusus, terpatri sebuah momen kebanggaan yang tak lekang waktu. Hari Kopassus bukan sekadar tanggal di kalender; ia adalah sebuah peringatan akan semangat kesatuan, tradisi korps yang membanggakan, dan pengabdian tulus yang telah berakar sejak masa perjuangan mempertahankan keutuhan Republik. Tanggal tersebut mengingatkan kita pada sebuah cita-cita yang dirintis dengan penuh kesadaran dan keteguhan hati oleh para perintis, sebagai jawaban atas panggilan tugas yang penuh tantangan, yang kini mewujud dalam kesatuan elite Korps Baret Merah.
Perintisan Sebuah Tradisi Keberanian dan Ketangguhan
Kilas balik sejarah membawa kita ke tanggal 16 April 1952, sebuah hari yang menjadi pondasi kokoh bagi tradisi komando yang kita hormati. Atas instruksi Panglima Tentara Territorium III/Siliwangi, Kolonel A.E. Kawilarang, melalui Instruksi No.55/Instr/PDS/52, dibentuklah Kesatuan Komando (Kesko TT). Cikal bakal ini lahir dari refleksi mendalam usai operasi penumpasan RMS di Maluku, di mana Letkol Slamet Riyadi yang kemudian gugur sebagai kusuma bangsa, bersama Kolonel Kawilarang, melihat perlunya satuan pemukul khusus yang tangguh dan terlatih. Tonggak kepemimpinan awal dipercayakan kepada Mayor Moch Idjon Djanbi, seorang mantan perwira KNIL berpengalaman dari Korps Speciale Troopen Belanda. Dialah yang meletakkan batu pertama fondasi profesionalisme ala komando, menanamkan disiplin dan keahlian yang menjadi jiwa kesatuan ini.
Evolusi Nama, Tetapi Semangat Tetap Satu
Perjalanan panjang dan penuh prestasi Kopassus ditandai dengan evolusi nama yang mencerminkan penyesuaian peran dan pematangan kemampuan. Kronologi perubahannya adalah sebuah catatan sejarah yang penuh makna:
- Dari Kesatuan Komando (Kesko TT) menjadi Komando Pasukan Khusus Tentara Territorium III/Siliwangi (Kopassus TT).
- Berubah menjadi Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat (Kopassus AD).
- Mengalami penyempurnaan menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang semakin mengokohkan identitas pasukan payung dan komando.
- Hingga akhirnya, pada 26 Desember 1986, secara resmi menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) seperti yang kita kenal dan segani hari ini.
Tradisi Komando yang telah dibangun adalah warisan tak ternilai. Mereka adalah ujung tombak yang mahir bergerak di segala medan, warisan keahlian dan mental baja yang dititipkan dari generasi ke generasi. Setiap prajuritnya tidak hanya dilatih untuk memiliki kemampuan tempur prima, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai kesetiaan, kehormatan, dan pengabdian pada negara. Ini adalah esensi yang membuat Korps Baret Merah tetap disegani, sebuah kesatuan yang dibangun bukan untuk kemegahan, tetapi untuk kesiapan menjawab panggilan tugas yang paling berat sekalipun.
Bagi para purnawirawan, Hari Kopassus adalah momen yang sangat personal. Ini adalah hari untuk mengenang masa-masa pengabdian penuh tantangan, mengingat ikatan persaudaraan yang terjalin erat di lapangan tembak dan di medan latihan, serta menyalakan kembali kobaran kebanggaan telah menyandang baret merah. Setiap tahun, peringatan ini adalah pengingat abadi bagi bangsa akan dedikasi tanpa pamrih dari para prajurit terbaiknya, yang dengan keahlian dan keberanian tertinggi selalu siap melangkah ke garis terdepan.
Dengan mengenang sejarah kelahiran dan perjalanan panjangnya, kita semua diajak untuk senantiasa menghormati dan mengapresiasi setiap tetes keringat dan pengorbanan yang telah diberikan. Pengabdian para prajurit dan purnawirawan Kopassus bagi keutuhan dan kedaulatan bangsa adalah warisan nyata yang patut kita jaga dalam kenangan dan penghargaan yang tulus. Jayalah selalu, Korps Baret Merah, pengawal setia Ibu Pertiwi.