Dengan penuh rasa syukur dan hormat yang mendalam, kita semua menyaksikan lembaran baru dalam sejarah kebaharian bangsa ini. Pada Jumat, 18 September 2026, di Dermaga 107 Tanjung Priok, kapal induk pertama TNI AL resmi merapat dan diabadikan dengan nama KRI Sriwijaya—sebuah nama yang membawa warisan kejayaan maritim Nusantara. Eks ITS Giuseppe Garibaldi, yang telah mengarungi samudra selama hampir empat dekade, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kekuatan laut Indonesia. Momen ini bukan sekadar penambahan alat utama sistem pertahanan, melainkan simbol tegaknya cita-cita luhur bangsa untuk menjadi poros maritim dunia—mimpi yang telah diperjuangkan para pahlawan laut dari masa kerajaan bahari hingga era kemerdekaan. Bagi para purnawirawan yang pernah mengabdikan jiwa raga di atas gelombang Nusantara, kehadiran KRI Sriwijaya adalah bukti nyata bahwa pengorbanan dan dedikasi para senior tidak pernah sia-sia.
Warisan Leluhur Maritim yang Hidup Kembali
Kapal induk yang lahir dari pengalaman panjang TNI AL ini membawa harapan sekaligus tantangan. Dengan bijak, TNI AL mengarahkan fokus KRI Sriwijaya pada Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti penanganan bencana alam dan misi kemanusiaan. Langkah ini merupakan penjabaran jiwa pengabdian TNI yang selalu hadir untuk rakyat—sebuah tradisi yang telah dicontohkan para pelaut pendahulu yang tak kenal lelah menjaga kedaulatan dan keselamatan bangsa. Kehadiran kapal induk ini menjadi bukti bahwa TNI AL terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman, namun tetap berpegang teguh pada tradisi kehormatan dan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah maritim yang telah dibangun oleh para senior menjadi fondasi kokoh bagi generasi penerus untuk mengarungi samudra luas dengan semangat yang sama: mengabdi untuk tanah air di atas dan di bawah gelombang laut.
Menjaga Tradisi, Mengarungi Masa Depan
Proses pembelajaran dalam mengoperasikan kapal induk ini adalah tugas mulia yang diemban oleh generasi penerus. Dari manajemen kapal yang kompleks, operasi penerbangan di geladak, hingga pengelolaan logistik yang cermat, setiap langkah adalah bagian dari pewarisan pengetahuan dan peningkatan profesionalisme. Beberapa tradisi satuan yang patut kita renungkan dalam perjalanan ini adalah:
- Semangat kesetiakawanan korps yang telah diwariskan turun-temurun, menjadi perekat kekuatan prajurit samudra.
- Kebanggaan akan identitas sebagai prajurit samudra yang tangguh, menghadapi badai dan gelombang dengan kegagahan.
- Komitmen pada nilai-nilai Tri Dharma Eka Karma yang menjadi nadi pengabdian, setia pada kehormatan dan kedaulatan bangsa.
Bagi para purnawirawan TNI AL, momen bersejarah ini adalah kebanggaan yang mendalam. Menyaksikan korps yang mereka cintai terus melangkah maju dengan semangat pengabdian yang tak pernah padam. Semoga KRI Sriwijaya menjadi inspirasi bagi seluruh prajurit untuk terus berkontribusi demi kejayaan maritim Indonesia—sebuah warisan sejarah yang akan dikenang sepanjang masa. Dengan penuh hormat, kami ucapkan terima kasih kepada para senior yang telah merintis jalan ini, dan kepada seluruh prajurit yang kini mengemban tugas suci menjaga kedaulatan bangsa di atas samudra. Jasamu abadi dalam gelombang sejarah maritim Nusantara.