Di tengah semarak peringatan HUT ke-81 TNI, ada satu momen yang mengingatkan kembali pada kehangatan tradisi korps: anjangsana. Kediaman Jenderal TNI (HOR) (Purn) Agum Gumelar di Kebayoran Baru menjadi saksi bisu pertemuan penuh keakraban antara Kapuskes TNI Mayjen TNI dr. Hadi Juanda beserta jajarannya dengan sang sesepuh. Bagi para prajurit, pertemuan seperti ini bukan sekadar kunjungan kehormatan, melainkan jembatan estafet nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun. Di ruang tamu yang sederhana itu, seolah terbayang kembali masa-masa pengabdian yang penuh perjuangan, di mana Sapta Marga dan Sumpah Prajurit menjadi kompas kehidupan.
Anjangsana: Tradisi Silaturahmi yang Menjaga Estafet Nilai Luhur
Anjangsana bukanlah sekadar rutinitas seremonial. Ia adalah cermin budaya TNI yang menjunjung tinggi penghormatan kepada para sesepuh dan purnawirawan. Dalam pertemuan ini, Kapuskes TNI Mayjen TNI dr. Hadi Juanda bersama rombongan tidak hanya menyampaikan salam hormat, tetapi juga mendengarkan dengan saksama pesan-pesan yang disampaikan oleh Jenderal (Purn) Agum Gumelar. Momen ini menjadi ruang dialog antargenerasi, di mana pengalaman panjang seorang tokoh menjadi pelita bagi langkah prajurit masa kini. Beberapa pesan penting yang mengemuka dalam anjangsana tersebut antara lain:
- Sapta Marga dan Sumpah Prajurit adalah pedoman yang tidak boleh luntur oleh zaman.
- Pengabdian kepada bangsa dan negara berlangsung sepanjang hayat, tidak berhenti saat pensiun.
- Para purnawirawan tetap memiliki peran sebagai teladan dan penjaga moralitas generasi muda.
- Nilai-nilai inti TNI harus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebagai Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI (Pepabri), Jenderal (Purn) Agum Gumelar menegaskan bahwa purnawirawan memiliki tanggung jawab moral untuk terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Pesan ini menjadi penguat semangat bagi para hadirin, mengingatkan bahwa pengabdian tidak pernah usai meski pangkat telah dilepas.
Sapta Marga dan Sumpah Prajurit: Pegangan Abadi di Setiap Langkah
Sapta Marga dan Sumpah Prajurit bukanlah sekadar rangkaian kata yang diucapkan ketika dilantik. Ia adalah janji suci yang mengikat setiap prajurit dalam seluruh dimensi kehidupan. Dalam kesempatan ini, beliau mengajak seluruh hadirin untuk kembali menghayati makna setiap butir Sapta Marga, mulai dari ketaatan kepada Pancasila dan UUD 1945, hingga kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua itu adalah pondasi yang membuat TNI tetap kokoh dan dipercaya rakyat. “Walaupun kita sudah purna tugas tetapi belum purna pengabdian,” tuturnya dengan tegas, mengingatkan bahwa dedikasi kepada bangsa dan negara adalah komitmen seumur hidup.
Bagi para purnawirawan, pesan dari sesepuh ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah yang pernah diambil dalam seragam hijau tetap bermakna, dan semangat juang tidak pernah padam meski telah melepas pangkat. Kehangatan anjangsana ini pun meninggalkan kesan mendalam, bahwa penghormatan kepada para senior bukan hanya formalitas, tetapi wujud nyata dari nilai-nilai luhur yang terus dihidupi.
Dengan berakhirnya anjangsana ini, semoga tali silaturahmi antargenerasi tetap terjaga, dan komitmen terhadap Sapta Marga serta Sumpah Prajurit senantiasa terpatri dalam sanubari setiap insan TNI, baik yang masih aktif maupun yang telah purna tugas.
Kepada Jenderal TNI (HOR) (Purn) Agum Gumelar, dan seluruh purnawirawan yang telah mengabdikan diri bagi bangsa dan negara, kami sampaikan penghormatan setinggi-tingginya. Jasa dan keteladananmu akan terus dikenang sebagai warisan berharga bagi generasi penerus. Semoga semangat pengabdian yang telah kalian tanamkan tidak pernah pudar, dan TNI tetap menjadi benteng kokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.