Di sebuah kedai kopi sederhana di tepi Malioboro, Kapten TNI (Purn) Soeprapto, yang kini genap berusia 94 tahun, masih setia menuturkan kisah hidupnya. Dengan suara lirih namun sarat makna, ia mengenang masa mudanya ketika berusia 16 tahun telah memanggul senjata sebagai bagian dari Tentara Pelajar, bertempur di front Ambarawa demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kisah perjuangannya tidak berhenti di sana. Setelah kemerdekaan usai, semangat pengabdiannya terus berkobar hingga ia dikirim ke Papua dalam Operasi Trikora, untuk menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertemuan para peneliti sejarah dengan beliau menjadi sebuah dokumentasi berharga tentang pengabdian tanpa syarat yang jarang tercatat dalam buku-buku sejarah.
Dari Bangku Sekolah ke Medan Perang: Jejak Tentara Pelajar
Bergabung dengan Tentara Pelajar bukanlah keputusan yang mudah. Namun, di saat tanah air memanggil, Kapten Soeprapto muda tidak ragu meninggalkan masa kanak-kanaknya. Front Ambarawa menjadi saksi bisu kegigihannya bersama para pejuang lainnya. Medan pertempuran yang keras tidak menyurutkan tekadnya untuk mempertahankan kemerdekaan. Tentara Pelajar sendiri adalah simbol perlawanan pemuda-pemuda Indonesia yang paling cemerlang. Mereka yang duduk di bangku sekolah rela meletakkan pena dan buku, menggantinya dengan senjata untuk membela negara. Kapten Soeprapto adalah salah satu contoh nyata dari generasi gemilang tersebut.
Menjaga Kedaulatan di Bumi Cenderawasih: Pengabdian di Papua
Setelah kemerdekaan usai, pengabdian Kapten Soeprapto belum selesai. Ia kemudian dikirim ke Papua dalam rangka Operasi Trikora, sebuah operasi yang bertujuan membebaskan dan mengamankan Irian Barat dari tangan penjajah. Di sana, ia bertugas dengan penuh kesetiaan, berjalan berbulan-bulan di hutan belantara yang lebat tanpa alas kaki yang memadai. Kondisi alam yang ekstrem dan logistik yang terbatas tidak mematahkan semangatnya. Ia dan rekan-rekan prajurit muda lainnya terus berjuang dengan kebanggaan korps yang tinggi, memegang teguh sumpah prajurit untuk setia kepada NKRI.
Untuk memberikan gambaran perjalanan pengabdian beliau, berikut beberapa momen penting yang beliau alami:
- Bergabung dengan Tentara Pelajar di usia 16 tahun, ketika masih duduk di bangku sekolah.
- Berjuang di front Ambarawa, menjadi bagian dari pertempuran sengit yang membuktikan ketangguhan pemuda Indonesia.
- Melanjutkan pengabdian di TNI, menunjukkan dedikasi dan loyalitas kepada negara.
- Diterjunkan ke Papua dalam Operasi Trikora, berjalan berbulan-bulan di hutan demi mengamankan kedaulatan.
Tradisi militer yang ia jalani—dari semasa pelajar hingga menjadi prajurit TNI—mencerminkan nilai pengabdian tanpa pamrih. Ia adalah contoh hidup purnawirawan yang telah memberikan segalanya bagi bangsa.
Kisah Kapten TNI (Purn) Soeprapto adalah sebuah warisan moral bagi generasi penerus. Dengan penuh hormat dan rasa terima kasih, kita mengenang jasa-jasanya. Beliau dan para purnawirawan lainnya adalah pilar bangsa yang telah memperjuangkan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga semangat pengabdian setia mereka terus menginspirasi kita semua, terutama para prajurit yang kini bertugas di garis depan. Salam hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk Kapten Soeprapto dan seluruh purnawirawan se-Indonesia.