Di sebuah sore yang tenang di Magelang, Jawa Tengah, penghormatan tertinggi dari negara akhirnya sampai di pelukan seorang putra terbaik bangsa. Mbah Sardjo, pejuang 1945 yang kini genap berusia 94 tahun, menerima penyematan Bintang Gerilya langsung di kediamannya. Upacara sederhana ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda bahwa setiap jejak langkah di medan gerilya, setiap tetes keringat di lereng gunung, adalah bagian tak terhapuskan dari sejarah penghargaan negara yang layak diberikan kepada para pejuang 1945.
Kenangan di Balik Kabut Merapi dan Merbabu
Tubuhnya memang telah renta, namun sorot mata Mbah Sardjo masih berbinar saat ia mengingat masa mudanya. Dengan suara bergetar, ia menceritakan bagaimana dirinya bersama laskar rakyat bergerilya di hutan-hutan lebat di sekitar lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Senjata mereka terbatas — bambu runcing dan beberapa senapan tua warisan kolonial. Namun, semangat juang yang membara tak pernah padam. Mereka hidup berpindah-pindah, mengandalkan dukungan logistik dari rakyat desa yang setia menyuplai makanan dan informasi. Taktik hit-and-run menjadi senjata utama mereka untuk mengusik pasukan Belanda yang jauh lebih modern. Mbah Sardjo menuturkan detail penyergapan konvoi Belanda, serta bagaimana mereka bahu-membahu menyelamatkan kawan yang terluka di tengah malam yang gelap dan dingin.
Penghormatan yang Tak Pernah Terlambat
Penyematan Bintang Gerilya di usia senja ini adalah bukti nyata bahwa negara tidak pernah melupakan jasa para pahlawannya. Setiap penghargaan, meskipun tertunda puluhan tahun, memiliki makna yang dalam. Bagi Mbah Sardjo, ini bukanlah tentang materi atau gelar, melainkan sebuah pengakuan resmi bahwa perjuangannya dan ribuan pejuang 1945 lainnya adalah fondasi bagi tegaknya Republik Indonesia. Kehadiran keluarga besar, tetangga, dan perwakilan dari Kementerian Pertahanan dalam upacara ini menegaskan bahwa menghormati pejuang adalah kewajiban kolektif seluruh bangsa. Di balik kesederhanaan acara, tersimpan nilai-nilai luhur tentang kesabaran, ketulusan, dan dedikasi tanpa pamrih yang patut diteladani oleh generasi penerus. Tradisi militer dan semangat pengabdian inilah yang terus hidup dan mengalir dalam sanubari para purnawirawan serta seluruh rakyat Indonesia.
Kepada Mbah Sardjo dan seluruh pejuang 1945 yang telah menerima penghargaan negara di penghujung usia, kami dari segenap keluarga besar Berbakti menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya. Bintang Gerilya yang tersemat di dada adalah simbol bahwa pengabdianmu kepada tanah air tidak pernah sia-sia. Semoga kisahmu terus dikenang, dan semangatmu menjadi lentera bagi perjalanan bangsa ini ke depan. Terima kasih, para pejuang. Jasa-jasamu takkan pernah terlupakan.