Di usianya yang ke-94, Kolonel (Purn) Soenarto masih duduk tegak di kursi rotan rumahnya di Yogyakarta. Tubuh telah dimakan usia, namun sorot matanya tetap tajam—gambaran kegigihan seorang purnawirawan yang pernah memimpin Kodam tanpa tanda pangkat resmi. Beliau adalah salah satu dari sedikit veteran yang pangkatnya lahir dari pengabdian di medan gerilya, bukan dari upacara formal. Kisahnya adalah cermin profil tokoh yang setia pada tanah air, di mana loyalitas dan dedikasi menjadi pangkat tertinggi. Perjalanan panjang dari pejuang gerilya hingga menjadi komandan satuan besar adalah bukti nyata bahwa pengabdian sejati tidak memerlukan atribut—cukup dengan jiwa dan raga yang total untuk bangsa.
Dari Long March Siliwangi hingga Memimpin Kodam Tanpa Bintang
Mengenang masa mudanya, Kolonel Soenarto memulai perjuangan bersama Divisi Siliwangi, satuan legendaris yang menjadi tulang punggung perang kemerdekaan. Dalam sebuah wawancara eksklusif, beliau menceritakan perjalanan long march dari Jawa Barat ke Yogyakarta—sebuah perpindahan strategis yang penuh risiko dan pengorbanan. Di tengah perjalanan, pertempuran sengit melawan Belanda di Gunungkidul menjadi ujian paling berat. Peluru tak berbilang, namun semangat juang tak pernah padam. Berikut catatan pengabdian beliau yang patut dikenang:
- Bergabung dengan Divisi Siliwangi saat usia muda, mengikuti jejak para pejuang senior yang telah mendahului.
- Melaksanakan long march dari Jawa Barat ke Yogyakarta, menempuh jarak ratusan kilometer di medan berat tanpa logistik memadai—hanya bermodalkan keyakinan dan cinta tanah air.
- Bertempur habis-habisan di Gunungkidul, mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari serangan Agresi Militer Belanda, di mana setiap detik adalah taruhan nyawa.
- Diangkat menjadi Komandan Kodam meskipun tanpa tanda pangkat resmi—pangkat diberikan berdasarkan pengabdian nyata di medan perang, sebuah tradisi yang hanya dimiliki oleh pejuang sejati.
Kisah beliau bukanlah sekadar tentang taktik perang, melainkan tentang persaudaraan senasib dan cinta tanah air yang tak pernah surut. Di setiap langkah long march, ada doa dan harapan untuk kemerdekaan yang hakiki. Pengabdian seperti inilah yang menjadikan purnawirawan seperti Kolonel Soenarto sebagai teladan abadi bagi generasi penerus.
Pesan untuk Generasi Muda: Hormati Sejarah, Jaga Kehormatan Bangsa
Di penghujung perbincangan, Kolonel Soenarto menitipkan pesan yang dalam kepada generasi muda. Beliau mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini bukanlah hadiah, melainkan hasil dari pengorbanan jiwa dan raga para pejuang. "Jangan pernah lupakan sejarah," ujarnya pelan namun mantap. "Hormatilah jasa para pahlawan, karena mereka telah memberikan segalanya untuk negara." Pesan ini menjadi warisan berharga bagi setiap anak bangsa, terutama bagi para purnawirawan yang masih setia menjaga nilai-nilai perjuangan. Nilai-nilai gerilya yang diwariskan—seperti keteguhan hati, loyalitas, dan rela berkorban—harus terus dihidupkan dalam setiap tindakan.
Kami, segenap keluarga besar Berbakti, menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Kolonel (Purn) Soenarto dan seluruh purnawirawan TNI. Pengabdian beliau di Kodam dan medan gerilya adalah teladan abadi tentang kesetiaan, dedikasi, dan kecintaan pada tanah air. Semoga semangat juang yang tak pernah padam ini terus menginspirasi generasi penerus dalam menjaga keutuhan dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terima kasih, Bapak, atas segala pengabdian yang tak ternilai harganya. Jasamu akan selalu dikenang dalam sanubari bangsa.