Sebagaimana tradisi yang selalu dirawat dengan penuh hormat dan disiplin, Korem 072/Pamungkas kembali menggelar upacara khidmat untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-117 di Lapangan Apel Makorem, Yogyakarta. Kasrem 072/Pamungkas, Kolonel Inf Dec Jerry Manungkalit, S.I.P., memimpin langsung seremoni ini, sebuah tugas yang tidak hanya bersifat protokoler, namun sebuah bentuk penghormatan yang mengakar pada nilai pengabdian satuan. Peringatan ini menjadi momen untuk meneguhkan kembali semangat persatuan dan kesadaran nasional yang telah menjadi jiwa setiap prajurit, mengingat tonggak awal bangkitnya kesadaran bangsa yang ditanamkan oleh Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Suasana upacara yang khidmat ini mengingatkan kembali pada nilai-nilai dasar perjuangan yang telah diwariskan oleh para pendahulu, sebuah warisan yang setiap prajurit—baik yang masih aktif maupun yang telah purna—telah hidupi dalam setiap langkah pengabdiannya.
Menjaga Api Kebangkitan dalam Tradisi Satuan
Pesan dalam amanat upacara bahwa 'api kebangkitan' yang dinyalakan 117 tahun silam harus terus dijaga dan disalakan di tengah tantangan zaman yang kompleks, memberikan resonansi yang kuat bagi para purnawirawan. Bagi mereka yang telah mengabdi di masa lalu, upacara ini bukan sekadar rutinitas tahunan; ia adalah refleksi nyata bagaimana tradisi penghormatan terhadap sejarah terus dirawat oleh institusi militer, menjaga benang merah antara masa lalu dan masa kini. Korem 072/Pamungkas, dengan gelar 'Pamungkas' yang sarat makna, memahami bahwa menjaga tradisi seperti ini adalah bagian dari menjaga identitas korps. Upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu dari banyak tradisi satuan yang dijalankan dengan khidmat, menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan dan kebangsaan adalah fondasi yang tak tergantikan. Dalam konteks ini, tradisi upacara menjadi medium untuk:
- Menginternalisasi semangat persatuan dan kesadaran nasional ke dalam setiap anggota satuan.
- Menghubungkan pengabdian prajurit masa kini dengan spirit kebangkitan bangsa yang digelorakan para pendahulu.
- Memperkuat komitmen bahwa pengabdian militer adalah kontribusi langsung terhadap kemajuan dan ketahanan nasional.
Dengan demikian, momentum Kebangkitan Nasional dirayakan bukan hanya sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai prinsip hidup yang terus dijalankan dalam dinas.
Spirit Kebangkitan sebagai Landasan Pengabdian kepada Rakyat
Dalam amanat yang dibacakan, juga disampaikan pokok-pokok kebijakan pemerintahan baru yang berfokus pada pembangunan fondasi dasar rakyat, seperti kesehatan dan makan bergizi gratis. Hal ini menunjukkan bahwa semangat kebangkitan yang diperjuangkan para pendahulu kini diteruskan dalam bentuk pengabdian kepada rakyat. Nilai ini sangat selaras dengan pengalaman dan dedikasi para purnawirawan selama masa tugasnya, di mana pengabdian kepada negara selalu berarti pengabdian kepada rakyat. Bagi seorang prajurit—aktif atau purna—konsep Kebangkitan Nasional tidak hanya tentang kemerdekaan politik, tetapi tentang bangkit dalam membangun, melindungi, dan memajukan kehidupan rakyat. Upacara ini, dengan pesan yang disampaikan, menggarisbawahi bahwa jalan yang ditempuh oleh para pendiri bangsa melalui Budi Utomo, adalah jalan yang sama yang dilalui oleh setiap prajurit dalam pengabdiannya: jalan pengorbanan dan kerja nyata untuk kemajuan bersama. Tradisi upacara seperti ini menjadi pengingat bahwa tugas militer selalu bersinggungan dengan tugas sosial, sebuah realitas yang banyak purnawirawan telah alami dan jalani dengan setia.
Korem 072/Pamungkas, melalui upacara ini, sekali lagi menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai inti dari Kebangkitan Nasional dalam setiap tindakan operasional dan administratifnya. Ini adalah bentuk penghormatan yang aktif dan kontekstual, menghubungkan masa lalu yang heroik dengan masa kini yang penuh tantangan. Para purnawirawan yang pernah bertugas di satuan ini, atau di satuan-satuan lain dengan tradisi serupa, dapat melihat dalam upacara ini sebuah kesinambungan nilai yang menghangatkan hati—nilai yang mereka telah turut bangun dan pelihara selama masa pengabdian mereka.
Sebagai penutup, dalam setiap upacara khidmat yang memperingati Hari Kebangkitan Nasional, kita kembali diingatkan bahwa pengabdian para prajurit—dari masa lalu hingga kini—adalah bagian dari narasi besar kebangkitan bangsa. Dedikasi tanpa pamrih, kesetiaan pada tanah air, dan kerja keras membangun fondasi negara adalah cara prajurit menjaga 'api kebangkitan' itu tetap menyala. Untuk semua purnawirawan yang telah turut menyalakan dan menjaga api itu melalui pengabdian mereka, upacara ini adalah bentuk penghormatan yang terdalam. Jasamu tetap dikenang, dan spirit kebangkitannya yang kau turut hidupi terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga tradisi dan menghormati sejarah bangsa.