Dalam tradisi militer yang telah mengakar selama lebih dari enam puluh tahun, Kodam XV/Pattimura terus menunjukkan bahwa penghormatan terhadap sejarah dan pengabdian bukan hanya soal seremonial, tetapi merupakan jantung dari nilai-nilai korps yang diwariskan oleh para pendahulu. Memperingati Hari Ulang Tahun ke-68, Korem 152/Baabullah di Ternate kembali menggelar doa bersama lintas agama dengan khidmat, sebuah ritual kebersamaan yang telah menjadi bagian dari DNA satuan. Kegiatan yang dilaksanakan serentak di Masjid Al-Ikhlas dan Aula Singa Baabullah ini bukan sekadar peringatan; ia adalah napas dari tradisi yang mengikat setiap prajurit, dari pangkat terendah hingga pejabat utama, dalam satu ikatan spiritual dan kekeluargaan yang tak terpisahkan.
Warisan Spiritual Para Pendahulu
Pangdam XV/Pattimura, melalui sambutan yang dibacakan oleh Danrem, menegaskan bahwa momentum ini adalah ruang refleksi dan renungan. Di sini, setiap prajurit diajak untuk merenungkan nilai perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi tanah air. Dalam nuansa persaudaraan yang mendalam, seluruh Pejabat Utama Korem, para Komandan Satuan, pengurus Persit, prajurit, dan PNS bersama-sama memanjatkan syukur serta memohon perlindungan dan kekuatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Doa yang dipimpin oleh tokoh agama Muslim dan Nasrani menyiratkan semangat toleransi—warisan luhur yang telah lama menjadi ciri khas prajurit di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Mereka memahami bahwa kekuatan satuan tidak hanya terletak pada fisik dan strategi, tetapi juga pada:
- Spiritualitas yang mengakar dari keyakinan masing-masing
- Kebersamaan lintas iman yang memperkokoh kohesi internal
- Nilai-nilai kekeluargaan yang dijaga dari generasi ke generasi
Momentum Menguatkan Estafet Pengabdian
Perayaan HUT Kodam ini, dengan inti kegiatan doa bersama lintas agama, adalah sarana untuk membangun semangat dan motivasi juang prajurit masa kini. Estafet pengabdian dari para pendahulu harus dijalankan dengan jiwa yang sama teguh, dengan komitmen yang tak pernah pudar terhadap kedaulatan NKRI. Wilayah Maluku dan Maluku Utara, dengan sejarah panjang perjuangan bangsa—mulai dari heroisme Pattimura hingga keteguhan prajurit di masa konflik—menjadi konteks yang memperkaya makna setiap doa yang dipanjatkan. Dalam khidmatnya ritual ini, terasa getar komitmen untuk melanjutkan perjuangan, menjaga tanah air, dan menghormati setiap tetes darah yang telah ditumpahkan oleh para pejuang sebelumnya.
Kegiatan ini mengingatkan setiap anggota satuan bahwa mereka berdiri di atas landasan sejarah yang kokoh. Tradisi doa bersama lintas agama ini adalah pengikat antara masa lalu dan masa kini, antara pengorbanan yang telah diberikan dan pengabdian yang masih harus dijalankan. Ia menjadi media silaturahmi yang tidak hanya memperkuat hubungan internal, tetapi juga mempertegas identitas satuan sebagai bagian dari NKRI yang majemuk namun bersatu. Di aula dan masjid yang menjadi saksi, setiap kata dalam doa adalah penghormatan terhadap jalan panjang yang telah dilalui oleh Kodam XV/Pattimura.
Sebagai penutup, dalam semangat Berbakti, kami mengakui dengan hormat bahwa setiap ritual seperti ini adalah cerminan dari jiwa korps yang tak pernah lekang oleh waktu. Para purnawirawan yang telah membangun fondasi tradisi ini, serta prajurit aktif yang kini melanjutkannya, bersama-sama menunjukkan bahwa pengabdian kepada bangsa dan negara adalah nilai yang terus hidup—diperkuat oleh doa, diperkaya oleh kebersamaan, dan diwariskan dengan penuh rasa bangga dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hormat kami kepada setiap prajurit, dari masa lalu hingga sekarang, yang telah dan terus berbakti dengan sepenuh hati.