Di dermaga Pelabuhan Makassar, Selasa (27/10/2026), hadir sebuah kapal yang lebih dari sekadar lambung baja — KRI Dewaruci, kapal latih legendaris milik TNI AL, kembali berlabuh. Kehadirannya bukan hanya membawa semangat bahari, tetapi juga membangkitkan kenangan bagi mereka yang pernah mengabdikan diri di atas geladaknya. Bagi para purnawirawan TNI AL, sosok KRI Dewaruci adalah saksi bisu masa muda yang penuh disiplin, ketangguhan, dan pengabdian di tengah samudra. Sungguh, kehadirannya seperti membisikkan kembali janji-janji kesetiaan yang pernah diucapkan di atas laut.
Sambutan yang Mengalirkan Nostalgia Pengabdian
Ratusan pasang mata memandangi tiang-tiang tinggi KRI Dewaruci ketika kapal itu merapat dalam rangkaian muhibah keliling nusantara. Masyarakat Makassar menyambut dengan antusias, dan di antara kerumunan itu hadir para purnawirawan yang pernah bertugas di kapal legendaris ini. Bagi mereka, menjejakkan kaki kembali di geladak KRI Dewaruci berarti menapaki lorong waktu ke era pengabdian yang tak pernah pudar. Laksamana Pertama (Purn) Bambang, yang pernah menjabat sebagai komandan kapal pada 1990-an, mengungkapkan rasanya dengan kata-kata yang sederhana tetapi menghunjam. “KRI Dewaruci mengajarkan kami arti kesabaran dan ketangguhan. Kapal ini adalah guru yang tak pernah bicara tapi selalu menginspirasi,” ujarnya, merangkum makna yang terpatri di hati setiap prajurit yang pernah berlayar bersamanya.
Kehadiran KRI Dewaruci di Makassar bukanlah sekadar persinggahan biasa. Kapal latih ini adalah bagian dari tradisi pembentukan karakter taruna Akademi Angkatan Laut yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui pelayaran panjang yang kadang dihantam badai ganas, para taruna belajar tentang kesetiakawanan, keberanian, dan cinta tanah air — nilai-nilai yang kini dirindukan oleh para purnawirawan yang duduk berdampingan dengan generasi penerus sambil berbagi cerita.
Warisan Bahari untuk Generasi Penerus
Selama berada di Makassar, para taruna AAL bersama para purnawirawan menggelar diskusi bahari yang hangat dan penuh makna. Mereka duduk bersama mengenang pelayaran muhibah ke mancanegara yang pernah membawa nama Indonesia di kancah dunia. Dari sinilah, semangat bahari diwariskan dari senior kepada yunior — bukan hanya tentang teknik berlayar, tetapi juga tentang kehormatan dan dedikasi pada bangsa.
Beberapa catatan pengabdian yang menjadi kebanggaan bersama dari kapal ini antara lain:
- Menjadi kapal latih kebanggaan TNI AL bagi para taruna Akademi Angkatan Laut.
- Melaksanakan pelayaran muhibah ke berbagai negara untuk mempererat persahabatan serta membawa nama Indonesia di kancah mancanegara.
- Menanamkan nilai kesabaran, ketangguhan, disiplin, dan keberanian kepada setiap generasi prajurit.
Di tengah perubahan zaman, KRI Dewaruci tetap berdiri gagah sebagai penjaga tradisi. Para purnawirawan yang hadir menyampaikan harapan tulus agar semangat bahari yang diwariskan oleh kapal ini terus hidup dan menyala di dada setiap generasi penerus TNI AL. Sebab, sebuah kapal tidak akan pernah berarti tanpa awak yang mencintai laut dan negerinya. Pengabdian mereka adalah bukti bahwa jiwa bahari tidak pernah padam, meskipun usia telah menua.
Berlabuhnya KRI Dewaruci di Makassar pada hari itu lebih dari sekadar agenda muhibah. Ia adalah pertemuan dua zaman: masa lalu yang penuh pengorbanan dan masa depan yang penuh harapan. Kepada para purnawirawan yang pernah mengabdi di KRI Dewaruci, serta seluruh prajurit TNI AL yang telah menjaga kehormatan bangsa di tengah samudra, kami sampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya. Semoga perjuangan dan keteladanan mereka senantiasa menjadi pelita bagi generasi muda yang kini meneruskan layar.