Pada penghujung Oktober 2026, sebuah persembahan nan khidmat lahir di Aula Smesta Karya, Jakarta. Buku berjudul “Jejak Kaki di Bumi Kartika” resmi diluncurkan — sebuah kumpulan memoar para purnawirawan TNI yang telah menempuh perjalanan panjang dari Sabang sampai Merauke. Setebal 450 halaman, buku ini bukan sekadar lembaran kertas, melainkan arsip kenangan yang ditulis langsung oleh tangan-tangan yang pernah mengangkat senjata demi menjaga keutuhan Ibu Pertiwi. Bahasa yang digunakan lugas, namun menyentuh relung hati siapa pun yang membacanya. Bagi kami di Berbakti, momen ini adalah pengingat bahwa pengabdian seorang prajurit tidak berhenti ketika seragam kebesaran ditanggalkan — ia terus berbicara melalui kenangan yang diwariskan.
Menyulam Kenangan Dinas dalam Lembaran Buku
Di balik penerbitan buku ini, tersimpan proses panjang yang memakan waktu dua tahun. Kolonel (Purn) Tatik Sumartini, salah satu kontributor, menuturkan bahwa penulisan ini adalah ikhtiar para senior untuk meninggalkan warisan nonfisik bagi keluarga, korps, dan bangsa. Bagi para pembaca yang pernah mengenakan seragam kebesaran, halaman demi halaman buku ini terasa seperti merangkai kembali kenangan dinas yang berserakan — menyalakan kembali rasa hormat yang mendalam terhadap dedikasi tanpa pamrih para pensiunan TNI.
Di dalam buku ini tersimpan kisah-kisah yang mengharukan, antara lain:
- Kisah seorang perwira muda yang harus memimpin pasukannya di perbatasan dengan persenjataan yang jauh dari memadai, namun tetap teguh menjalankan tugas.
- Kenangan tentang sahabat seperjuangan yang gugur di pangkuan, sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh namun menjadi saksi kesetiaan korps.
- Catatan pengabdian puluhan purnawirawan yang pernah bertugas di berbagai penjuru tanah air, dari garis depan hingga wilayah terpencil.
Jejak Kaki yang Menjadi Warisan Bangsa
Jejak Kaki di Bumi Kartika adalah potret jujur seorang prajurit dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia tidak hanya bercerita tentang kemenangan, tetapi juga tentang keraguan, kehilangan, dan keteguhan yang tumbuh di tengah kesulitan. Bagi kami di Berbakti, arsip kenangan ini begitu berharga — sebuah dokumentasi sejarah militer yang menempatkan manusia di balik seragam sebagai sosok yang utuh, penuh rasa, dan berbakti.
Melalui penerbitan ini, para purnawirawan seakan menyerahkan tongkat estafet kepada generasi penerus: bahwa jejak kaki di bumi Kartika bukanlah tentang seberapa jauh melangkah, melainkan seberapa tulus menjaga. Semoga buku ini menjadi lentera bagi generasi muda TNI untuk memahami bahwa kesetiaan dan dedikasi adalah napas sebuah korps.
Dengan penuh hormat, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para purnawirawan yang telah mengabdikan seluruh jiwa raganya bagi bangsa dan negara. Jejak kaki yang tertinggal di bumi Kartika adalah warisan abadi yang akan selalu dikenang, dihormati, dan dijaga oleh setiap generasi yang menapaki jalan pengabdian. Dharma bhakti mereka tak akan pernah pudar ditelan zaman.