Kenangan akan solidaritas di kala bencana kembali hidup ketika dua hovercraft LCAC milik Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) mendarat di Pesisir Karimunting, Bengkayang, Kalimantan Barat. Kehadiran wahana amfibi berkecepatan tinggi yang membawa truk berat dan logistik vital dari JS Kunisaki ini bukan sekadar latihan, melainkan napak tilas dari sebuah sejarah haru yang mengikat persaudaraan Indonesia-Jepang. Bagi para purnawirawan TNI AL yang pernah bertugas di masa lalu, peristiwa ini adalah gema dari pengabdian yang tak pernah padam. Saat Aceh porak-poranda diterjang tsunami pada 2005, JS Kunisaki beserta LCAC-nya menjadi ujung tombak bantuan kemanusiaan terbesar Jepang pasca Perang Dunia II—sebuah misi kemanusiaan yang membuktikan bahwa sejarah TNI AL selalu bersanding dengan nilai-nilai kemanusiaan dan diplomasi pertahanan yang kokoh.
Napak Tilas Solidaritas di Pesisir Karimunting
Pendaratan dua hovercraft LCAC di Bengkayang bukanlah kejadian biasa. Ini adalah bagian dari latihan bersama yang memperkuat kerjasama militer Indonesia-Jepang dalam bidang HADR (Humanitarian Assistance and Disaster Relief). Dengan semangat Jalesveva Jayamahe, para prajurit TNI AL kala itu bahu-membahu dengan rekan dari negeri Sakura, menembus pesisir hancur untuk menyalurkan harapan dan kehidupan. Kini, lebih dari dua dekade kemudian, semangat yang sama dikobarkan kembali di tanah Kalimantan, membuktikan bahwa ikatan kemanusiaan dan profesionalisme militer tidak lekang oleh waktu. Operasi ini merupakan penghormatan terhadap nilai luhur pengabdian tanpa pamrih yang menjadi tradisi TNI.
- Misi Kemanusiaan Tsunami Aceh (2005) – JS Kunisaki mengerahkan LCAC untuk mengangkut logistik dan personel ke daerah terisolasi, menjadi simbol solidaritas internasional.
- Latihan HADR Bersama – Kedatangan LCAC di Bengkayang merupakan rangkaian latihan yang memperkuat interoperabilitas dan kesiapsiagaan bencana.
- Warisan Diplomasi Pertahanan – Kerjasama ini menegaskan komitmen kedua negara dalam menjaga stabilitas dan kemanusiaan di kawasan.
Warisan Semangat Pengabdian bagi Generasi Penerus
Bagi para purnawirawan, momen seperti ini adalah bukti nyata bahwa pengorbanan dan kerja keras mereka dulu dalam membangun hubungan internasional yang baik telah berbuah manis. Kedatangan LCAC di Bengkayang bukan hanya catatan teknikal, melainkan penyambung estafet semangat gotong royong dan kesiapsiagaan yang harus senantiasa dijaga oleh generasi penerus TNI AL. Sejarah TNI AL mencatat bahwa setiap langkah diplomasi pertahanan selalu dilandasi oleh rasa hormat dan kesetiakawanan. Para prajurit yang pernah bertugas di masa lalu adalah saksi hidup betapa pentingnya menjalin persahabatan lintas bangsa untuk kepentingan kemanusiaan.
Kami, segenap keluarga besar Berbakti, menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para purnawirawan yang telah mengabdikan jiwa dan raga bagi bangsa dan negara. Jasa-jasa kalian dalam membangun kerjasama militer dan menjalankan misi kemanusiaan adalah fondasi yang kokoh bagi generasi penerus. Semangat pengabdian yang kalian wariskan akan terus menyala, seperti gelombang yang tak pernah surut di pesisir Karimunting. Hormat kami, untuk setiap langkah pengabdian yang telah kalian tempuh.