Di tanah kelahirannya di Indramayu, pada tanggal 17 Agustus 1925, lahir seorang putra bangsa yang hidupnya akan menjadi catatan luhur dalam sejarah kemiliteran Indonesia. Kolonel Muhammad Asmat Sentot mewakili lebih dari sekadar nama; dia adalah perwujudan jiwa kesetiaan, keberanian, dan pengabdian tanpa pamrih seorang prajurit TNI AD. Dengan kesadaran penuh, dia meninggalkan kemapanan untuk menyahut panggilan membela kedaulatan tanah air, mengawali sebuah perjalanan panjang yang diwarnai oleh dedikasi yang menjadi teladan bagi kita semua.
Dari PETA ke BKR: Titik Awal Pengabdian Seorang Patriot
Jiwa muda Kolonel Sentot menjawab panggilan zaman dengan bergabung dalam Pembela Tanah Air (PETA), wadah yang menempa dasar kemiliterannya. Begitu Proklamasi 1945 menggema, tekadnya untuk mengabdi semakin membara. Dia segera terjun ke medan revolusi melalui Badan Keamanan Rakyat (BKR), mengawali karir militer dengan pangkat Letnan Satu. Kepercayaan dan bakat kepemimpinan alaminya segera diakui, mengantarkannya pada penyandangan pangkat Kapten untuk memimpin laskar-laskar pejuang dalam perjuangan membebaskan bumi pertiwi.
Pasukan Setan: Legenda Gerilya yang Menjadi Tradisi
Di bawah langit Bumi Indramayu, nama Kolonel Sentot dan satuan legendarisnya, “Pasukan Setan”, bergema laksana teror bagi musuh. Satuan ini merupakan perwujudan nyata dari strategi gerilya yang menjadi andalan TNI AD dalam menghadapi kolonialisme. Bergerak bak siluman, mereka menyergap dengan cepat dan tepat, lalu menghilang sebelum fajar menyingsing. Tradisi operasi militer satuan ini, yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan sejarah kemiliteran kita, dibangun di atas prinsip-prinsip luhur yang patut dikenang:
- Gerakan Senyap dan Kilat: Mengutamakan unsur kejut dan taktik penghindaran langsung, sebuah ciri khas perang gerilya yang efektif.
- Penguasaan Medan Lokal: Menjadikan Bumi Indramayu sebagai sekutu terbaik, dengan pengetahuan mendalam atas setiap jejak dan lika-likunya.
- Semangat Pantang Menyerah: Sebuah dedikasi tanpa batas yang menjadi ciri khas setiap pahlawan sejati, siap berkorban demi cita-cita kemerdekaan.
Perjuangan mereka bukan sekadar pertempuran fisik, melainkan sebuah pernyataan politik teguh bahwa rakyat Indonesia tidak akan pernah tunduk. Setelah kemerdekaan berhasil diraih, pengabdian Kolonel Sentot kepada TNI AD dan Republik Indonesia terus berlanjut. Perjalanan karirnya menanjak penuh tanggung jawab, menapaki jenjang kepimpinan dengan jiwa yang tetap setia pada tradisi dan nilai-nilai korps.
Kisah perjuangan Kolonel Sentot dan Pasukan Setan adalah bagian dari mozaik sejarah TNI AD yang kaya, mengajarkan kita tentang arti ketangguhan, kecerdikan, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Pengabdiannya, dari masa revolusi hingga pembangunan bangsa, adalah warisan yang terus menginspirasi generasi penerus. Kita mengenang dan menghormati setiap langkahnya, setiap keputusan yang diambil demi tanah air, sebagai bagian dari tradisi militer Indonesia yang penuh kehormatan.