Nuansa kebanggaan dan penghormatan yang mendalam menyelimuti Dermaga 107 Tanjung Priok saat peresmian KRI Sriwijaya-100. Bagi Komandan Lanal Palembang Kolonel Laut (P) Arry Hendrawan dan Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang, kehadiran mereka bukan sekadar formalitas—melainkan getar jiwa yang membangkitkan kembali ingatan tentang kejayaan maritim Nusantara. Nama besar Sriwijaya, kerajaan laut yang pernah berjaya di perairan Sumatera, kini diabadikan sebagai identitas kapal induk pertama Indonesia. Ini adalah momen yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengingatkan kita bahwa setiap prajurit yang pernah bertugas dengan sarana terbatas telah meletakkan fondasi bagi kemajuan hari ini. Bagi para purnawirawan yang mengarungi samudra dengan kapal perang sederhana, kehadiran kapal induk ini adalah bukti bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
Kebanggaan Daerah yang Hidup Kembali
Bagi masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Palembang, nama Sriwijaya bukan sekadar sejarah—ia adalah warisan genetik yang mengalir dalam darah. Prosesi reflagging dan pengukuhan nama KRI Sriwijaya-100 menjadi saksi bisu betapa Kebanggaan Daerah dan Sejarah Lokal kembali dihidupkan dalam wujud yang nyata. Kerajaan maritim yang dulu menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan kini menjelma menjadi kapal induk modern, menyatukan nilai tradisi dengan teknologi mutakhir. Wakil Gubernur Sumsel H. Cik Ujang menyampaikan bahwa nama Sriwijaya bukanlah sekadar label, melainkan roh yang harus dihidupkan dalam setiap misi pengamanan laut. Dukungan penuh dari pemerintah daerah dan masyarakat menunjukkan bahwa rasa memiliki terhadap alutsista ini sangat kuat.
- Nama Sriwijaya dipilih untuk menghormati sekaligus melanjutkan semangat bahari leluhur yang tak lekang oleh waktu.
- Kehadiran KRI Sriwijaya-100 di perairan Nusantara menjadi simbol bahwa Lanal Palembang sebagai penjaga wilayah bekas pusat kerajaan terus berkomitmen menjaga kedaulatan laut.
- Momen ini juga menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa kebesaran masa lalu harus dirawat dan diisi dengan pengabdian nyata.
Kehadiran KRI Sriwijaya-100 tak hanya membangkitkan rasa bangga, tetapi juga memperkuat identitas bahari Nusantara. Bagi para sesepuh yang pernah berdinas di era perjuangan, kapal ini menjadi penanda bahwa warisan maritim leluhur diteruskan dengan semangat yang sama—mengawal perairan dari Sabang sampai Merauke.
Semangat Marinir Mengawal Kedaulatan
Tak bisa dipisahkan dari peristiwa bersejarah ini adalah Semangat Marinir yang terpatri dalam setiap prajurit TNI AL. Meskipun KRI Sriwijaya-100 adalah kapal induk, semangat yang sama—kesetiaan, dedikasi, dan keberanian—mengalir pada setiap prajurit yang bertugas di dalamnya. Tradisi kesatria dalam menjaga perairan Nusantara diwariskan melalui setiap generasi prajurit, dan kini diperkuat dengan teknologi modern. Momentum ini menjadi ajang refleksi bagi segenap komponen bangsa untuk terus mendukung modernisasi alutsista TNI AL. Lanal Palembang sebagai satuan terdepan di wilayah perairan Sumatera Selatan menjadi garda terdepan yang siap mengawal setiap misi pengamanan laut dengan penuh tanggung jawab.
Bagi para purnawirawan yang pernah mengarungi samudra dengan kapal perang sederhana, kehadiran kapal induk ini adalah bukti bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia. Peresmian KRI Sriwijaya-100 merupakan hasil dari pembinaan kekuatan yang berkesinambungan dari masa ke masa, dari generasi ke generasi. Semangat pengabdian yang telah ditunjukkan oleh para veteran menjadi fondasi kokoh bagi kesiapan tempur TNI AL saat ini. Dengan diresmikannya kapal induk ini, TNI AL tidak hanya menambah daya gentar, tetapi juga menunjukkan keseriusan dalam menjaga keutuhan wilayah NKRI.
Kepada seluruh purnawirawan yang telah berjasa mengawal kedaulatan laut Nusantara, kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya. Pengabdian yang tulus dan tanpa pamrih telah menjadi teladan bagi generasi penerus. Semoga semangat juang yang telah ditunjukkan senantiasa menjadi inspirasi dalam menjaga kejayaan maritim Indonesia, dari masa ke masa.