Petang itu, di ruang sakral Museum Bali, Denpasar, getaran nostalgia seakan menyelimuti setiap sudut ruangan. Puluhan purnawirawan dan akademisi hadir dengan khidmat, duduk bersimpuh dalam balutan kenangan yang mendalam. Mereka adalah saksi bisu peluncuran buku Operasi Trisula: Mengenang Perjuangan di Bali, sebuah karya yang lahir dari pena Letkol (Purn) I Wayan Suardika, mantan Komandan Batalyon yang pernah memimpin prajurit di medan perang. Bagi para veteran yang dahulu muda dan gagah, setiap lembar memoar bagaikan suluh yang menerangi kembali lorong waktu, membangkitkan ingatan akan medan perang di lereng Gunung Agung saat Operasi Trisula digelar pada tahun 1968. Acara ini bukan sekadar seremoni; ia adalah penghormatan kepada jejak langkah kesetiaan dan dharma bakti yang tak pernah pudar, meski usia telah menguji. Di sini, di Denpasar, sejarah militer kembali dihidupkan, mengingatkan kita semua bahwa pengabdian adalah warisan abadi.
Mengenang Jejak Pengabdian di Lereng Gunung Agung
Buku setebal 300 halaman ini mengisahkan secara rinci operasi militer yang digelar Tentara Nasional Indonesia di Pulau Dewata. Operasi Trisula menjadi bab penting dalam sejarah militer Indonesia, di mana semangat juang prajurit berpadu dengan kearifan lokal masyarakat Bali. Dalam sambutannya, Letkol (Purn) I Wayan Suardika mengungkapkan bahwa setiap catatan dalam buku ini adalah hasil perenungan mendalam dan wawancara dengan rekan-rekan seperjuangan. Ia menegaskan, “Kemenangan bukan hanya milik TNI, melainkan hasil gotong royong antara prajurit dan rakyat, terutama para penduduk desa di sekitar Gunung Agung.” Operasi yang berlangsung beberapa bulan pada tahun 1968 itu dimulai dari daerah pesisir hingga masuk ke hutan belantara di ketinggian Gunung Agung. Strategi “gabungan senjata dan hati nurani” diterapkan, di mana TNI tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga pendekatan kultural untuk mendapatkan dukungan warga. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan misi tidak semata-mata diukur dari kemenangan di medan laga, tetapi juga dari kemampuan memenangkan hati rakyat.
- Operasi Trisula berlangsung selama beberapa bulan pada tahun 1968, dari pesisir hingga hutan di lereng Gunung Agung.
- Strategi “gabungan senjata dan hati nurani” memadukan kekuatan militer dengan pendekatan kultural.
- Buku ini mencatat lebih dari 20 nama veteran yang gugur, serta puluhan lainnya yang terluka—semuanya dikenang sebagai pahlawan daerah.
Nilai Kearifan Lokal dalam Medan Perang: Manyama Braya
Salah satu momen paling menyentuh hati dalam acara peluncuran buku di Denpasar ini adalah sesi diskusi terbuka. Beberapa veteran yang hadir menitikkan air mata saat membagikan pengalaman langsung di lapangan. Mereka mengingat bagaimana warga desa di sekitar lereng Gunung Agung dengan sukarela menyediakan logistik, menjadi pemandu jalur, dan bahkan ikut berjaga malam bersama prajurit. Semangat “manyama braya”—persaudaraan sejati ala Bali—menjadi fondasi yang memperkuat barisan. Letkol (Purn) I Wayan Suardika menambahkan bahwa nilai gotong royong inilah yang menjadi kunci keberhasilan Operasi Trisula di Bali. Tanpa dukungan rakyat, misi sulit dilaksanakan. Buku ini pun mengabadikan kisah-kisah heroik para pejuang yang bertempur bukan hanya demi tugas, tetapi demi kehormatan dan persatuan bangsa.
Karya ini bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan juga penghormatan bagi setiap prajurit yang telah mengorbankan jiwa dan raga. Melalui halaman-halamannya, generasi muda dapat belajar tentang arti kesetiaan, dedikasi, dan cinta tanah air. Acara di Museum Bali menjadi pengingat bahwa pengabdian para purnawirawan tidak pernah lekang oleh waktu. Kami, keluarga besar Berbakti, menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada para veteran Operasi Trisula. Semoga buku ini menjadi warisan abadi yang terus menginspirasi. Jasa dan dharma bakti kalian bagi bangsa dan negara akan selalu dikenang dalam sanubari rakyat Indonesia.