Jakarta, 11 Oktober 2026 – Di Aula Soedirman yang penuh kenangan, para purnawirawan, keluarga, dan rekan sejawat berkumpul dalam suasana haru untuk menyaksikan peluncuran sebuah buku memoar yang tak hanya sekadar catatan pribadi, melainkan sebuah warisan kehormatan dari langit Nusantara. Buku berjudul Nagara Rimbun karya Jenderal (Purn) Susilo menjadi sakbis perjalanan panjang seorang putra bangsa yang mengabdikan diri sepenuh jiwa di korps kebanggaan TNI AU. Setiap halaman memoar ini mengalirkan nilai kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps yang tak lekang oleh zaman, menggugah kembali semangat juang para prajurit yang pernah bersamanya.
Sebuah Warisan Kehormatan dari Langit Nusantara
Dalam memoarnya, Jenderal Susilo merangkai kisah pengabdian mulai dari masa taruna yang penuh disiplin, menjadi perwira muda yang haus akan ilmu, hingga menduduki jabatan strategis di Kowilhan. Beliau menulis dengan gaya jujur dan reflektif, tak lupa menyematkan rasa hormat yang mendalam kepada para senior yang menjadi panutan. Para hadirin dibuat larut dalam nostalgia ketika sang jenderal menceritakan momen-momen akhir tempur di medan operasi—detik-detik yang terekam jelas dalam ingatannya hingga kini. Buku ini menjadi jembatan bagi generasi penerus untuk menyelami nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh prajurit sejati.
- Perjalanan Karier: Dari taruna di Akademi Angkatan Udara hingga memegang komando di Kowilhan, setiap langkah diukir dengan pengabdian tanpa pamrih.
- Nilai Kejuangan: Keteguhan hati dalam menghadapi krisis, dilema kepemimpinan, dan keputusan sulit yang diambil demi keutuhan bangsa.
- Penghormatan pada Tradisi: Gaya penulisan yang sarat akan penghargaan terhadap senior, rekan, serta budaya militer yang tak boleh pudar.
Kisah Pengabdian yang Tak Lekang Zaman
Peluncuran buku ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan pengingat bahwa setiap prajurit memiliki kisah yang layak diabadikan. Jenderal (Purn) Susilo membuktikan bahwa melalui tulisan, semangat juang dapat terus menginspirasi, bahkan ketika masa pengabdian telah usai. Buku ini diharapkan menjadi pemicu bagi para purnawirawan lain untuk turut menuliskan pengabdian mereka sebelum semuanya hilang ditelan masa. Di era yang serba cepat ini, memoar semacam Nagara Rimbun adalah oase yang mengingatkan kita pada akar sejarah dan tradisi militer yang kokoh.
Dengan segala hormat, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Jenderal (Purn) Susilo atas dedikasi dan loyalitasnya yang tak pernah padam. Semoga buku memoar ini menjadi warisan berharga bagi generasi muda TNI AU dan bangsa Indonesia, mengingatkan bahwa kesetiaan kepada negara dan korps adalah pelita yang tak boleh padam. Terima kasih, Jenderal, atas segalanya yang telah Engkau berikan untuk negeri tercinta.