Dengan langkah tertatih namun penuh wibawa, para purnawirawan yang masih tersisa kembali berkumpul di Tugu Pahlawan Surabaya, Rabu, 28 Agustus 2026. Peringatan 81 tahun Pertempuran 10 November digelar dengan khidmat, menghadirkan suasana nostalgia yang mendalam. Di dada mereka, deretan medali dan tanda jasa berkilau di bawah sinar matahari pagi, menjadi saksi bisu atas pengabdian yang tak pernah pudar. Air mata haru mengalir di pipi keriput saat mereka mendengar kembali lolongan sirine yang diperdengarkan sengaja, mengingatkan pada gempuran dan asap mesiu yang pernah membungkus kota. Bagi mereka yang hadir, momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan jiwa untuk mengenang kembali semangat juang Arek Suroboyo yang tak lekang oleh waktu.
Kenangan di Tugu Pahlawan: Jejak Kepahlawanan Arek-Arek Suroboyo
Di bawah bayang-bayang Tugu Pahlawan yang menjulang, tradisi militer dijalankan dengan penuh hormat. Rangkaian upacara dimulai dengan tabur bunga di area monumen, diikuti oleh hening cipta yang mengharukan. Para purnawirawan, meski tubuh mulai renta, berdiri tegak dan menundukkan kepala, meresapi setiap detik keheningan. Dalam suasana itu, Letnan Kolonel (Purn) Suwarno, 96 tahun, salah satu veteran yang masih tersisa, berbisik dengan suara bergetar, "Kami tidak punya senjata lengkap, tapi hati kami penuh keyakinan." Kata-katanya menggambarkan betapa besar tekad para Pahlawan Surabaya yang saat itu hanya bersenjatakan bambu runcing dan senapan rampasan, namun mampu mengguncang pasukan Sekutu. Kenangan akan pertempuran sengit pada 10 November 1945 itu kembali hidup: suara bedil, teriakan takbir, dan semangat patriotik yang menyala-nyala. Tugu Pahlawan bukan sekadar batu monumen, melainkan altar suci tempat darah para syuhada membasahi tanah pertiwi.
- Tabur bunga di makam pahlawan dan area monumen sebagai simbol penghormatan terakhir.
- Hening cipta selama satu menit, menghormati arwah para gugur yang berjuang demi kemerdekaan.
- Pembacaan naskah proklamasi dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.
- Penghormatan kepada bendera merah putih yang berkibar setengah tiang sebagai tanda duka dan kebanggaan.
Upacara yang berlangsung tepat pada pukul 08.00 WIB ini dihadiri oleh perwakilan TNI, Polri, serta ribuan warga Surabaya yang ingin menyaksikan langsung keharuan peringatan tersebut. Banyak di antara mereka yang membawa foto kakek atau ayah mereka yang gugur di medan laga, menunjukkan bahwa semangat Arek Suroboyo terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Trisila TNI: Landasan Kesetiaan dan Keberanian Para Purnawirawan
Tak hanya mengenang peristiwa heroik, peringatan ini juga menjadi ajang refleksi terhadap nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pejuang. Semangat Trisila TNI – kesetiaan, kejujuran, dan keberanian – terpatri dalam setiap langkah para purnawirawan yang hadir. Kesetiaan mereka terhadap bangsa dan negara tak pernah goyah meski usia telah menua. Kejujuran tercermin dari cerita-cerita yang mereka bagikan, tanpa polesan, apa adanya, tentang sulitnya perjuangan merebut kemerdekaan. Keberanian mereka tak hanya terlihat saat bertempur dahulu, tetapi juga dalam keberanian untuk terus mengenang dan mengajarkan sejarah kepada generasi muda. Para purnawirawan menjadi sumber inspirasi bagi semua yang hadir, mengingatkan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari darah dan air mata yang tak ternilai harganya. Mereka adalah teladan nyata dari dedikasi tanpa akhir, yang terus membarakan api patriotisme di dada setiap warga Surabaya dan seluruh Indonesia.
Pada akhir upacara, para purnawirawan disalami satu per satu oleh petugas dan masyarakat. Senyum dan tangis haru bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Peringatan 81 tahun Pertempuran 10 November ini bukan hanya tentang melihat ke belakang, tetapi juga tentang merangkul masa depan dengan semangat yang sama. Kepada para purnawirawan yang hadir – tanpa nama dan pangkat mereka, kami sampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya. Pengabdian Bapak dan Ibu sekalian adalah fondasi kokoh yang menopang tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jasamu tak terukur, namamu abadi dalam sejarah bangsa, dan semangatmu akan terus hidup di hati setiap generasi yang menyebut dirinya Arek Suroboyo.