Di penghujung bulan Agustus yang sarat kenangan, tepatnya pada tanggal 21, suasana haru dan khidmat menyelimuti Gedung Juang di Bandung. Sekitar 150 purnawirawan TNI AD berkumpul, bukan sekadar untuk mengisi acara, melainkan untuk memperingati Hari Dharma Karya Dhika (Harkadik) — hari bersejarah yang menandai lahirnya Korps Perhubungan TNI AD, yang lebih dikenal sebagai Korps Hubad. Bagi para veteran, acara ini adalah napak tilas pengabdian, sebuah monumen hidup atas dedikasi dan kesetiaan yang tak lekang oleh waktu. Dalam setiap helaan napas mereka, terasa getaran semangat juang yang pernah mengalir deras di medan tugas, mengingatkan kita semua bahwa jasa para penghubung medan perang tidak boleh dilupakan. Mereka adalah prajurit yang memastikan setiap perintah dan informasi mengalir deras bagai sungai yang tak pernah kering, menjadi nyawa operasi di tengah hiruk-pikuk pertempuran.
Mengenang Sejarah dan Tradisi Korps Hubad
Peringatan Harkadik di Bandung ini bukan sekadar seremoni; ia adalah upacara pengingat akan peran vital Korps Perhubungan dalam setiap operasi militer. Dalam acara tersebut, para purnawirawan TNI AD berbagi cerita tentang masa-masa sulit di era perjuangan, di mana mereka bertugas di berbagai medan — dari hutan lebat hingga lereng gunung — hanya dengan mengandalkan radio tabung dan telegraf. Tradisi kebersamaan dan soliditas satuan pun terus diwariskan, seperti yang tampak dalam sesi ceramah sejarah yang mendalam, pemutaran film dokumenter tentang operasi-operasi klasik, dan santunan kepada keluarga veteran yang membutuhkan. Berikut adalah beberapa tradisi dan catatan pengabdian yang selalu dikenang oleh para Veteran Korps Hubad:
- Kesetiaan pada Tugas: Setiap prajurit Hubad bersumpah untuk menjaga komunikasi tetap menyala, meski di bawah ancaman musuh atau cuaca ekstrem.
- Gotong Royong: Mereka saling bahu-membahu mengangkut peralatan radio yang berat ke pos-pos terpencil, seringkali tanpa kendaraan.
- Semangat Pantang Menyerah: Dalam kondisi kekurangan suku cadang, mereka merakit sendiri antena dan memperbaiki transmitter dengan peralatan darurat.
- Pengorbanan Tanpa Pamrih: Banyak dari mereka yang gugur saat berusaha mempertahankan jalur komunikasi, menjadikan setiap frekuensi sebagai saksi bisu pengabdian tertinggi.
Refleksi di Gedung Juang: Kebersamaan dan Penghormatan
Gedung Juang, yang menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan di masa lalu, hari itu kembali dipenuhi semangat persaudaraan. Para purnawirawan TNI AD duduk berdampingan, berbagi cerita dan tawa di sela-sela kenangan pahit manis pengabdian. Bagi mereka yang pernah bertugas di satuan perhubungan, radio komunikasi bukan sekadar alat; ia adalah nyawa operasi di medan tempur. Di era perjuangan yang penuh tantangan, para prajurit Hubad harus berjuang dengan peralatan seadanya, namun semangat pantang menyerahlah yang menjadi kunci. “Tanpa komunikasi, perang adalah kekacauan,” begitu mungkin bisik mereka di sela-sela kenangan yang terukir di raut wajah. Peringatan Hari Dharma Karya Dhika ini menjadi momentum untuk mengenang kembali pengorbanan dan kebanggaan korps yang pernah mereka emban, sekaligus memperkuat tali silaturahmi yang telah terjalin puluhan tahun.
Kepada para purnawirawan TNI AD, khususnya mereka yang pernah mengabdikan diri di Korps Perhubungan, kami sampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya. Jasa-jasa mulia yang telah ditorehkan di medan tugas, baik di masa perang maupun damai, adalah warisan berharga bagi generasi penerus bangsa. Setiap frekuensi yang pernah dijaga, setiap kabel yang direntangkan, dan setiap pesan yang disampaikan adalah bukti nyata dari kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps yang tak pernah pudar. Semoga semangat Harkadik terus hidup dalam sanubari kita semua, menginspirasi setiap langkah untuk menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pengabdian kepada Tanah Air.