Setiap tanggal 10 November, Kota Surabaya bukan sekadar kota pahlawan dalam catatan sejarah, melainkan altar hidup pengabdian bagi para Veteran dan purnawirawan yang pernah merasakan panasnya medan laga atau mewarisi semangat juangnya. Tahun ini, peringatan Hari Pahlawan 2025 kembali diisi dengan kegiatan Napak Tilas yang membawa para sesepuh TNI dan pejuang kemerdekaan menyusuri jejak heroik Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo. Di setiap sudut jalan yang mereka tapaki, terpancar kilau kenangan akan keberanian yang pantang menyerah—sebuah peristiwa yang membentuk karakter kepahlawanan bangsa Indonesia.
Gedung Internatio dan Jembatan Merah: Saksi Bisu Keberanian Arek-Arek Suroboyo
Dalam iringan langkah khidmat, rombongan veteran dan purnawirawan mengunjungi situs-situs bersejarah yang menjadi saksi bisu pertempuran sengit November 1945. Mereka berhenti sejenak di Gedung Internatio, tempat para pejuang bertahan dengan gigih melawan tentara Sekutu. Tak jauh dari sana, Jembatan Merah yang legendaris menjadi titik refleksi—di mana darah para syuhada membasahi aspal demi mempertahankan harga diri bangsa. Para sesepuh ini tidak sekadar berjalan; mereka bercerita bukan sebagai narasi buku teks, melainkan sebagai pengalaman hidup yang nyata, penuh getaran emosi dan rasa bangga korps. Transfer nilai-nilai luhur seperti cinta tanah air, keberanian, dan persatuan terjadi secara alami dari mulut para pejuang ke telinga generasi muda yang mendampingi.
- Gedung Internatio: Saksi pertahanan sengit arek-arek Suroboyo melawan pasukan Sekutu.
- Jembatan Merah: Titik simbolis perlawanan yang mengalirkan semangat 'Merdeka atau Mati'.
- Tugu Pahlawan: Monumen kebanggaan yang menjadi puncak napak tilas, tempat penghormatan terakhir kepada para pahlawan.
Bung Tomo dan Kobaran Semangat 'Merdeka atau Mati'
Tak lengkap rasanya napak tilas ini tanpa mengenang peran vital Bung Tomo. Melalui siaran radionya yang membara, ia berhasil membakar jiwa seluruh rakyat Surabaya. Para veteran yang pernah mendengar langsung atau meneruskan cerita para senior mereka menegaskan: “Suara Bung Tomo adalah api yang tak kunjung padam.” Dalam setiap langkah napak tilas, semangat heroik November 1945 itu terus dirawat—menjadi api yang menyala dalam dada setiap purnawirawan dan prajurit aktif. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan komitmen untuk tidak melupakan jasa para pahlawan dan memperkuat ikatan emosional antara pejuang masa lalu dengan penjaga kedaulatan masa kini.
Dengan penuh rasa hormat, kami panjatkan doa dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para Veteran dan purnawirawan yang telah mengorbankan jiwa, raga, dan masa muda mereka demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga semangat Hari Pahlawan di Surabaya ini terus menjadi lentera bagi generasi penerus untuk menjaga martabat bangsa. Dari Gedung Internatio hingga Tugu Pahlawan, setiap langkah napak tilas adalah wujud bakti yang tak akan pernah pudar. Dirgahayu para pejuang! Jasamu abadi dalam sanubari bangsa.