Di bawah langit Surabaya yang mulai senja, Tugu Pahlawan kembali menjadi saksi bisu sebuah pertemuan penuh makna. Dalam rangkaian peringatan Sumpah Pemuda, para purnawirawan yang pernah mengabdi di Jawa Timur duduk berdampingan di kawasan monumen bersejarah ini. Mereka tidak sekadar mengenang masa lalu, melainkan hadir untuk menyalakan kembali semangat juang yang pernah membara di dada para pemuda pejuang Surabaya. Langit temaram dan angin sepoi seolah ikut meresapi getar sejarah yang dihidupkan oleh suara lirih dan tatapan mata penuh kenangan dari para veteran. Momen ini menjadi pengingat bahwa pengabdian seorang prajurit tidak pernah berakhir, meski usia telah menua dan medan laga telah berlalu.
Benang Merah Sumpah Pemuda dan Pertempuran Surabaya
Kolonel Inf (Purn) Mustofa Kamal, sesepuh veteran yang hadir, menuturkan dengan penuh penghayatan bahwa semangat Sumpah Pemuda dan semangat pertempuran 10 November adalah dua hal yang saling berkaitan. Keduanya, menurut beliau, lahir dari darah muda yang tidak takut mati. “Sumpah Pemuda mempersatukan tekad, dan pertempuran 10 November membuktikan bahwa tekad itu dibayar dengan pengorbanan nyata,” ujarnya di hadapan para hadirin yang mengheningkan cipta. Diskusi sejarah berlangsung hangat di tengah suasana nostalgia yang kental, di mana para purnawirawan berbagi kisah tentang keberanian dan kegigihan arek-arek Suroboyo yang bertempur dengan bambu runcing dan senjata rampasan. Beberapa catatan pengabdian yang mengemuka dalam diskusi tersebut antara lain:
- Pertempuran 10 November 1945 menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia yang dikenang sebagai Hari Pahlawan.
- Para pejuang muda Surabaya menggunakan bambu runcing dan senjata rampasan sebagai alat perlawanan.
- Semangat Sumpah Pemuda 1928 menjadi fondasi persatuan yang menggerakkan seluruh perlawanan rakyat.
- Jasa dan pengorbanan para pahlawan menjadi warisan abadi yang wajib dirawat oleh generasi penerus.
Nostalgia dan Pengabdian di Tugu Pahlawan
Suasana menjadi semakin khusyuk ketika para hadirin diajak berjalan mengelilingi area monumen Tugu Pahlawan. Narasi perjuangan dibacakan oleh aktor-aktor lokal, seolah membawa setiap orang kembali ke masa ketika Surabaya bergetar oleh gemuruh perlawanan. Di bangku-bangku tua, para purnawirawan duduk saling berbagi tempat, menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti “Halo-Halo Bandung” dan “Maju Tak Gentar”. Lirik-lirik itu bukan sekadar lagu; ia adalah doa, kenangan, dan penghormatan kepada rekan-rekan seperjuangan yang telah gugur di medan laga. Jaket loreng, baret hijau, dan deretan medali yang tersemat di dada para veteran menjadi saksi bisu bahwa perjuangan bukanlah sekadar kenangan, melainkan pengabdian yang terus diwariskan. Kehadiran mereka mengajarkan bahwa semangat juang tidak pernah lekang oleh waktu. Bagi generasi muda yang turut hadir, kegiatan ini menjadi momentum untuk merenungkan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Mereka tidak hanya mendengar cerita, tetapi turut merasakan getar sejarah di tempat para pahlawan pernah berdiri.
Pada akhirnya, peringatan Sumpah Pemuda di Tugu Pahlawan ini bukanlah sekadar acara seremonial. Ia adalah napas panjang pengabdian yang terus mengalir dari generasi ke generasi. Para purnawirawan yang hadir hari itu, dengan segala keterbatasan usia, telah menunjukkan bahwa jiwa kesatria tidak pernah padam. Mereka adalah teladan hidup bahwa semangat juang dan cinta tanah air adalah warisan yang tak ternilai. Kepada para purnawirawan, para veteran, dan seluruh pejuang yang telah mengorbankan segalanya bagi bangsa dan negara, kami haturkan penghormatan setinggi-tingginya. Jasamu abadi, pengabdianmu tak terlupakan, dan semangatmu akan terus menginspirasi perjalanan bangsa ini ke depan.