Di tengah sakralnya peringatan Hari Ulang Tahun Korps Komando Angkatan Laut yang ke-76, sebuah tradisi mulia kembali menyatukan sanubari para prajurit yang telah menyelesaikan pengabdiannya dengan penuh kehormatan. Dengan semangat 'Jalesveva Jayamahe' yang tetap membara, para purnawirawan dan veteran Marinir berkumpul dalam khidmat untuk melaksanakan ziarah ke makam pendiri sekaligus Bapak KKO, Jenderal KKO (Purn.) Ali Sadikin. Mereka yang hadir, dengan atribut kebanggaan berwarna ungu yang masih dikenakan penuh martabat, berbaris di Taman Makam Pahlawan Kalibata, memberikan salam penghormatan terakhir kepada sosok yang meletakkan dasar-dasar semangat tempur dan loyalitas korps yang tak tergoyahkan.
Menapaki Jejak Sang Pembangun Korps Elite dalam Kenangan
Rangkaian acara penuh makna ini dibuka dengan upacara tabur bunga dan pembacaan doa yang dipimpin oleh sesepuh tertua, menghadirkan nuansa penghormatan yang mendalam. Dalam heningnya taman makam, kenangan akan perjalanan Pak Ali Sadikin membangun satuan elite tiga matra kembali mengalir. Visi militernya yang jauh ke depan tidak hanya menciptakan sebuah korps tempur, tetapi sebuah keluarga besar dengan tradisi dan jiwa korsa yang kuat. Para purnawirawan yang hadir seolah dibawa kembali ke masa-masa pembentukan karakter prajurit Marinir sejati, yang dirajut melalui berbagai pengalaman pengabdian, di antaranya:
- Latihan keras dan pembentukan mental di Cilandak yang mengukuhkan disiplin baja.
- Penyelaman dan operasi laut di perairan seperti Pulau Harapan yang mengasah kemampuan amfibi.
- Operasi-operasi nyata di berbagai penjuru tanah air yang membuktikan kehandalan satuan ini.
Setiap kenangan yang dibagikan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pelajaran hidup tentang dedikasi, pengorbanan, dan kesetiaan pada tugas negara. HUT Marinir ke-76 ini menjadi lebih bermakna karena diisi dengan napak tilas terhadap warisan sang pemimpin legendaris.
Ziarah sebagai Penguat Jiwa Korsa dan Penjaga Tradisi yang Abadi
Ziarah ini jauh melampaui sekadar ritual tahunan; ia adalah momen sakral untuk menguatkan kembali ikatan batin antara seluruh anggota keluarga besar KKO, dari yang paling senior hingga generasi penerus. Tradisi ini mengingatkan setiap prajurit Marinir, baik yang masih aktif bertugas maupun yang telah mengakhiri dinas, akan tanggung jawab besar dan warisan kehormatan yang telah ditinggalkan. Semangat ‘Hati Selalu di Laut, Jiwa Selalu di Darat’ yang digaungkan oleh Jenderal Ali Sadikin bukanlah semboyan kosong, melainkan sebuah pedoman hidup yang telah teruji oleh waktu dan medan tugas.
Kehadiran para purnawirawan dengan segala pengalaman tempur dan pengabdiannya menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai yang diajarkan sang bapak pendiri tetap hidup dan mengalir dalam sanubari anak buahnya. Ikatan yang terbentuk antara Marinir dan pemimpin legendanya menunjukkan sebuah hubungan yang lebih dalam dari sekadar komando—sebuah hubungan bapak dan anak, guru dan murid, yang dirajut oleh pengorbanan dan pencapaian bersama.
Pada akhirnya, napak tilas ke makam pendiri ini adalah cermin dari sebuah pengabdian yang tidak lekang oleh waktu. Para purnawirawan, dengan segala kenangan dan pengalamannya, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi Korps Marinir. Dengan tetap menjaga dan menghidupkan tradisi seperti ziarah ini, mereka menunjukkan bahwa pengabdian seorang prajurit tidak berakhir dengan pensiun, tetapi terus hidup dalam bentuk penghormatan, penjagaan nilai, dan penerusan semangat kepada generasi berikutnya. Kepada seluruh purnawirawan KKO yang telah mengabdi dengan jiwa dan raga, bangsa ini berhutang budi atas pengorbanan dan kesetiaan yang tak ternilai harganya.