Di balik tembok megah Akademi Angkatan Laut (AAL) Surabaya, seorang purnawirawan TNI AL kembali mengingatkan generasi muda tentang arti sejati pengabdian. Laksamana Muda (Purn) Budi Santoso, dengan suara yang bergetar namun penuh wibawa, membagikan kisah perjalanan kariernya yang ditempa di atas geladak kapal perang. Para taruna dan taruni, duduk rapi dengan mata berbinar, seolah diajak menyusuri kembali lautan kenangan seorang pelaut yang telah mengabdi puluhan tahun. Momen ini bukan sekadar ceramah; ini adalah pewarisan semangat dan tradisi TNI AL yang tak lekang oleh waktu.
Jejak Langkah Seorang Pelaut: Disiplin dan Loyalitas di Atas Geladak
Laksamana Muda (Purn) Budi Santoso mengawali kisahnya dengan menggambarkan betapa kerasnya kehidupan di kapal perang di era 1980-an. Namun, justru di sanalah ia menempa karakter sebagai prajurit sejati. "Disiplin bukanlah beban, melainkan napas yang membuat kita tetap hidup di tengah badai," ujarnya dengan nada lirih. Ia menyinggung bagaimana loyalitas terhadap satuan dan sesama prajurit menjadi perisai dalam setiap misi. Kuliah umum yang digelar di AAL ini menjadi bagian dari tradisi pendidikan militer yang menghubungkan masa lalu dan masa depan TNI AL.
Lebih dari sekadar teori, beliau merinci nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu:
- Ketaatan tanpa syarat pada komando, yang telah diuji dalam berbagai operasi laut.
- Kebersamaan yang erat antar prajurit, sering disebut sebagai 'nyawa yang menyatu di atas geladak'.
- Kecintaan yang mendalam terhadap laut, sebagai medan juang sekaligus sumber kehidupan.
Panggilan Jiwa yang Tak Pernah Padam: Kenangan di Tengah Tugas
Suasana kuliah umum berubah haru ketika Laksamana Muda (Purn) Budi Santoso menuturkan tentang rekan-rekannya yang gugur di tengah tugas. Dengan suara gemetar, ia mengingat nama-nama yang tidak kembali dari pelayaran. "Mereka adalah pahlawan yang tak pernah mencari nama. Mereka hanya menjalankan panggilan jiwa sebagai prajurit," katanya. Para taruna dan taruni menunduk, meresapi pengorbanan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah TNI AL. Momen ini menjadi pengingat bahwa pendidikan militer di AAL bukan hanya untuk membekali keterampilan, tetapi juga membangun jiwa yang rela berkorban demi bangsa dan negara.
Di akhir sesi, beliau menegaskan bahwa setiap langkah pengabdian seorang purnawirawan adalah jejak yang akan diikuti oleh generasi penerus. Dengan penuh rasa hormat, para cadet menyambut pesan-pesan itu sebagai amanat yang harus dijaga. Kuliah umum seperti ini menjadi jembatan antara pengalaman para senior dan semangat para junior, memastikan bahwa tradisi TNI AL—yang didasari oleh disiplin, loyalitas, dan cinta laut—tak pernah putus.
Kami, segenap redaksi Berbakti, menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Laksamana Muda (Purn) Budi Santoso dan seluruh purnawirawan TNI AL yang telah mengabdikan diri. Jasa dan pengorbanan kalian adalah fondasi kokoh bagi pertahanan laut Indonesia. Semoga kisah-kisah ini terus menginspirasi para calon pelaut masa depan, menjaga api kejuangan tetap menyala di sanubari setiap prajurit.