Setiap tanggal 12 September, kita mengenang kembali sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari tekad yang tak pernah padam. Di balik peringatan Hari Purnawirawan, tersimpan sejarah yang sarat makna tentang semangat pengabdian yang tak pernah usai meski seragam telah dilipat rapi. Cikal bakal organisasi ini lahir pada 12 April 1957, ketika para pensiunan TNI di Jakarta dengan bulat hati membentuk Persatuan Pensiunan Angkatan Perang Republik Indonesia (PERPAPRI). Mereka adalah para veteran yang meyakini bahwa jiwa prajurit tidak pernah pensiun—hanya berganti medan pengabdian, dari barisan depan pertahanan negara ke barisan pembangunan masyarakat. Momentum ini menjadi tonggak awal yang menegaskan bahwa dedikasi kepada bangsa dan negara adalah panggilan seumur hidup.
Dari PERPAPRI 1957 hingga Kongres Lembang 1964: Transformasi yang Bermartabat
Perjalanan Sejarah PEPABRI tidak lepas dari semangat kebersamaan yang terus diperkuat. Setelah melalui berbagai penyempurnaan dan integrasi, tepatnya melalui Kongres Nasional III di Lembang, Bandung pada tahun 1964, nama organisasi ini ditetapkan menjadi Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (PEPABRI). Kongres Lembang 1964 bukan sekadar perubahan nama, melainkan sebuah langkah untuk mengangkat harkat dan martabat mereka yang telah mengabdi. Dalam kongres bersejarah itu, istilah 'pensiunan' secara resmi digantikan dengan 'purnawirawan'—sebutan yang lebih terhormat dan mencerminkan harga diri. Tak hanya itu, para janda purnawirawan yang setia mendampingi perjuangan suami mereka pun diberi sebutan mulia: Warakawuri.
- PERPAPRI dibentuk pada 12 April 1957 di Jakarta sebagai wadah persaudaraan dan pengabdian lanjutan.
- Kongres Nasional III di Lembang, 1964, melahirkan nama PEPABRI dan istilah purnawirawan.
- Warakawuri diakui sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga besar purnawirawan.
- Tanggal 12 September ditetapkan sebagai Hari Purnawirawan dan hari lahir PEPABRI.
Penetapan tanggal 12 September sebagai Hari Purnawirawan menegaskan komitmen untuk terus mempertahankan semangat pengabdian dan persatuan di antara keluarga besar purnawirawan. Setiap tahun, peringatan ini menjadi momentum untuk merenungkan kembali perjuangan para pendahulu, mempererat tali silaturahmi, dan menyalurkan nilai-nilai luhur keprajuritan kepada generasi muda. Bagi PEPABRI, hari ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan untuk menjaga api pengabdian tetap menyala terang di tengah perubahan zaman.
Hari Purnawirawan: Menghidupkan Kembali Tradisi Keprajuritan
Lebih dari sekadar peringatan, Hari Purnawirawan adalah refleksi bahwa pengabdian kepada bangsa tidak mengenal batas usia. Para purnawirawan dan warakawuri terus menjadi teladan dalam kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps. Melalui berbagai kegiatan sosial, pembinaan generasi penerus, dan penguatan wawasan kebangsaan, mereka membuktikan bahwa jiwa prajurit tidak pernah purna tugas. Sejarah panjang PEPABRI mengingatkan kita bahwa setiap langkah kecil yang didasari cinta tanah air akan selalu bermakna.
Kepada seluruh purnawirawan dan warakawuri, kami haturkan penghormatan setinggi-tingginya. Pengabdian yang telah diberikan selama bertahun-tahun adalah bunga api yang menerangi jalan bangsa ini menuju masa depan yang lebih baik. Semoga semangat keprajuritan yang telah Bapak dan Ibu tanamkan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Terima kasih atas jasa, pengorbanan, dan cinta yang tak ternilai bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hormat kami, tetap berkobar selamanya.