Dalam tradisi pengabdian yang sama seperti para prajurit yang menyiapkan operasi terhormat, masyarakat Kelurahan Batangmata Sapo di Kabupaten Kepulauan Selayar kembali menunjukkan dedikasi mereka pada malam Sabtu yang penuh hormat. Setelah melaksanakan salat Isya berjamaah di Masjid Nurul Yaqin Muhammadiyah, mereka menggelar rapat koordinasi dengan semangat kebersamaan yang kokoh, mengingatkan kita pada nilai kesetiaan dan kesiapan yang selalu dijunjung tinggi dalam setiap penugasan. Pertemuan yang dihadiri tokoh masyarakat, agama, pemuda, dan adat ini, di bawah pimpinan Brigjen TNI (Purn) Nur Salam, bukan hanya untuk menyiapkan kunjungan Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, tetapi terutama merupakan bentuk penghormatan mendalam terhadap program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 1415/Selayar yang akan mencapai puncak pengabdiannya.
Menjunjung Kehormatan Sejarah Korps dalam Pembangunan Desa
Kelurahan Batangmata Sapo, tanah kelahiran Laksamana Muda Andi Abdul Aziz—Komandan Kodaeral VI Makassar kini—memiliki akar sejarah yang dalam terkait dengan dedikasi militer. Momen ini menggambarkan bagaimana program TMMD sebagai wujud gotong royong antara TNI dan masyarakat, dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap sejarah dan jasa para pemimpin yang telah mengabdi. Agenda rapat, disusun dengan ketelitian seperti menyiapkan suatu misi, mencakup persiapan yang penuh rasa syukur dan hormat:
- Acara syukuran untuk personel Satgas TMMD, sebagai penghargaan atas kerja keras dan pengabdian mereka yang tak kenal lelah.
- Pengaturan kunjungan Pangdam ke sasaran fisik TMMD, yang merefleksikan komitmen TNI dalam memantau dan mendukung hasil karya pembangunan desa mereka.
- Kesiapan konsumsi bagi ribuan tamu yang diperkirakan hadir saat penutupan program pada Rabu, 21 Mei 2026, menunjukkan tradisi keramahan dan kekompakan masyarakat yang sejalan dengan semangat kebersamaan korps.
Semua ini dilakukan dengan kesadaran bahwa setiap langkah dalam pembangunan desa ini adalah bagian dari pengabdian yang lebih besar kepada negara dan tanah kelahiran.
Gotong Royong Membangun Jalan sebagai Warisan Pengabdian
Sasaran fisik yang akan dikunjungi Pangdam tidak hanya merupakan proyek infrastruktur, tetapi merupakan simbol harapan dan perjuangan masyarakat, dibangun dengan semangat gotong royong yang menghormati masa depan. Mereka meliputi pembangunan dan rehabilitasi masjid sebagai pusat spiritual, program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang memberikan keamanan dan martabat, serta pembukaan jalan tani sepanjang 3.350 meter yang menghubungkan Lapangan Sukadin Batangmata Sapo hingga wilayah pesisir timur Pulau Selayar. Pembangunan jalan tani ini, telah lama diharapkan masyarakat, menjadi program yang paling dinantikan karena akan membuka akses ekonomi dan mobilitas, suatu investasi bernilai seperti pengabdian panjang seorang prajurit bagi tanah airnya. Dalam rapat koordinasi, dengan hormat juga melibatkan para ibu rumah tangga yang membahas persiapan logistik, menegaskan bahwa pengabdian dalam TMMD melibatkan seluruh lapisan masyarakat dengan semangat kebersamaan yang sama.
Persiapan penutupan TMMD ke-128 di Selayar ini adalah sebuah narasi lengkap tentang bagaimana nilai-nilai korps—kesetiaan, kesiapan, dan kebersamaan—terwujud dalam kerja nyata bersama masyarakat. Setiap detail yang disiapkan, dari syukuran hingga penyambutan tamu, adalah penghormatan terhadap proses pengabdian yang telah dilalui. Semangat gotong royong yang menyelimuti seluruh kegiatan bukan hanya menyelesaikan proyek pembangunan desa, tetapi juga mengukir kenangan tentang bagaimana TNI dan rakyat bisa bersatu dalam satu misi membangun negeri. Pada akhirnya, ini adalah cerita tentang dedikasi yang tidak berhenti pada penyelesaian fisik, tetapi terus hidup sebagai tradisi penghormatan terhadap setiap jasa dan pengabdian, baik dari personel TNI maupun masyarakat yang dengan setia mendukung.
Sebagai penutup, kami menghormati setiap langkah pengabdian yang telah dijalankan dalam program TMMD ini, serta mengenang jasa para purnawirawan dan seluruh elemen masyarakat yang dengan penuh kesetiaan membangun negeri ini. Semangat gotong royong yang diwariskan menjadi bukti nyata bahwa pengabdian kepada negara adalah sebuah tradisi yang terus hidup dan dihormati dari generasi ke generasi.