Seminar Nasional bertajuk "Peran TNI dalam Operasi Pemeliharaan Perdamaian PBB: Sejarah dan Prospek" bukan sekadar forum akademik. Lebih dari itu, acara yang digelar di Balai Sudirman, Jakarta, menjadi napak tilas kehormatan bagi para purnawirawan yang pernah mengabdi di bawah bendera biru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Diselenggarakan oleh Markas Besar TNI bersama Universitas Pertahanan, seminar ini dihadiri oleh perwira tinggi TNI, akademisi, dan puluhan purnawirawan yang pernah bertugas dalam misi-misi seperti UNEF, UNIFIL, dan MINUSCA. Kepala Staf Umum TNI, Laksdya TNI Dr. Irwan Achmad, membuka acara dengan menegaskan bahwa kontribusi TNI dalam operasi perdamaian dunia adalah salah satu capaian yang membanggakan sepanjang sejarah militer Indonesia.
Mengenang Jejak Garuda di Bumi Perserikatan Bangsa-Bangsa
Suasana seminar terasa begitu kental dengan nostalgia ketika para purnawirawan berbagi kisah pengabdian mereka. Salah satu pembicara, Brigjen (Purn) Bambang Widianto, menuturkan pengalaman penuh risiko saat memimpin misi di Kongo pada awal tahun 2000-an. Dengan penuh penghayatan, ia menceritakan tantangan mediasi konflik, perlindungan warga sipil, dan membangun kepercayaan di daerah rawan. Berkat profesionalisme prajurit, misi itu berhasil menciptakan zona aman bagi ribuan pengungsi. Sepanjang sejarah, TNI telah mengirimkan ribuan prajurit dalam berbagai misi perdamaian PBB, di antaranya:
- UNEF (Mesir) — misi pertama era 1950-an yang menandai debut Garuda di pentas dunia.
- UNIFIL (Lebanon) — pengabdian di kawasan Timur Tengah yang penuh dinamika politik dan keamanan.
- MINUSCA (Republik Afrika Tengah) — misi kontemporer yang menuntut adaptasi tinggi di lingkungan multinasional.
Diskusi interaktif yang mengalir hangat mengingatkan kembali bahwa setiap penugasan adalah ujian kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps. Para peserta, tak terkecuali purnawirawan yang duduk di barisan depan, saling bertukar cerita tentang suka duka menjaga nama baik Indonesia di negeri orang.
Profesionalisme Prajurit yang Tak Pernah Padam
Seminar ini juga menyoroti nilai etika dan profesionalisme yang menjadi pegangan setiap prajurit dalam operasi multinasional. Para pembicara menekankan bahwa misi perdamaian bukan sekadar tugas fisik, melainkan panggilan moral untuk menjunjung tinggi kemanusiaan. Dari pengalaman di lapangan, lahir berbagai pelajaran berharga tentang bagaimana menghadapi perbedaan budaya, bahasa, dan kepentingan politik tanpa meninggalkan jati diri sebagai prajurit TNI. Acara yang berlangsung penuh khidmat ini diharapkan dapat memperkaya wawasan tentang sejarah peran internasional TNI dan memperkuat semangat pengabdian tanpa pamrih. Sebagai penutup, dibacakan rekomendasi untuk pengembangan kapasitas pasukan perdamaian ke depan, termasuk peningkatan pelatihan dan logistik.
Kepada para purnawirawan yang pernah menjadi bagian dari Kontingen Garuda, kami ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya. Setiap langkah pengabdian kalian adalah warisan berharga yang terus menginspirasi generasi prajurit selanjutnya. Sejarah mencatat bahwa merah putih pernah berkibar dengan gagah di medan operasi perdamaian dunia, dan itu semua berkat dedikasi kalian yang tak kenal lelah. Hormat kami, setinggi-tingginya.