Suasana di Lapangan Upacara Wing III Paskhas, Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, pagi itu dipenuhi keharuan dan kebanggaan. Para prajurit muda berdiri dengan sikap sempurna, menyambut kehadiran para sesepuh Pasukan Khas TNI AU yang hadir dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda. Langkah para veteran yang memasuki area upacara bukan sekadar ritual seremonial, melainkan simbol perjalanan panjang pengabdian yang telah mengukir sejarah di angkasa Nusantara. Kehadiran mereka mengingatkan kita semua akan nilai kesetiaan, dedikasi, dan keberanian yang diwariskan dari generasi ke generasi, membakar semangat penerus untuk terus menjaga kejayaan angkasa.
Wejangan Sang Sesepuh: Teknologi dan Semangat Juang Abadi
Tokoh yang paling dinantikan adalah Marsekal Pertama TNI (Purn) Benny Wenas, seorang veteran Paskhas yang dikenal gagah berani. Dengan suara mantap, beliau menyampaikan pidato yang menyentuh relung hati para prajurit muda. “Perjuangan kini tidak selalu dengan senjata, tetapi juga dengan kecerdasan menjaga kedaulatan di udara,” ujarnya. Wejangan ini menjadi bekal berharga bagi generasi penerus untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa melupakan nilai-nilai kesetiaan dan dedikasi yang diwariskan oleh para pendahulu. Para veteran Paskhas dan TNI AU menekankan tiga pesan utama yang harus dipegang teguh:
- Pentingnya penguasaan teknologi untuk menjaga kedaulatan udara, seiring tantangan zaman yang semakin kompleks.
- Semangat juang yang harus terus menyala dalam setiap tugas, karena pengabdian tidak pernah padam meskipun medan berubah.
- Nilai kesetiaan dan dedikasi sebagai fondasi pengabdian, yang menjadi identitas korps Paskhas dan TNI AU sepanjang masa.
Tradisi Baret: Simbol Pengabdian dan Kebanggaan Korps
Setelah wejangan, digelar tradisi yang sangat dinantikan: penyematan baret secara simbolis dari sesepuh kepada prajurit berprestasi. Dengan tangan yang telah dilewati banyak peluru dan sejarah, para veteran menyematkan baret merah maroon—lambang kehormatan Paskhas—ke kepala para prajurit muda. Wajah mereka tampak terharu, mata berkaca-kaca menyadari beban dan kehormatan yang kini mereka pikul. Baret itu bukan sekadar aksesori, melainkan simbol keyakinan bahwa merekalah penerus yang akan menjaga kejayaan angkasa Nusantara. Acara belum berakhir. Usai upacara, para sesepuh meluangkan waktu duduk bersama di ruang tunggu. Mereka bercerita tentang operasi-operasi khas yang pernah mereka jalani, dari pengamanan hingga misi-misi berbahaya di udara. Para prajurit muda menyimak dengan penuh hormat, karena setiap kata dari para senior itu adalah pelajaran berharga yang tidak akan mereka dapatkan di bangku sekolah.
Di akhir acara, seluruh prajurit muda berdiri dan memberi hormat kepada para sesepuh. Kehormatan itu tidak hanya untuk momen ini, tetapi untuk seluruh pengabdian yang telah mereka berikan. Semoga generasi penerus selalu menjaga kejayaan angkasa Nusantara, seperti yang telah dikobarkan oleh para veteran Paskhas dan TNI AU. Kami, segenap keluarga besar Berbakti, mengucapkan penghormatan setinggi-tingginya kepada para purnawirawan yang telah mengabdikan jiwa dan raga untuk kedaulatan udara Indonesia. Jasa dan pengabdianmu adalah pelita yang takkan pernah padam bagi generasi penerus bangsa.