Dalam derap langkah pengabdian yang tak pernah berhenti berdetak, dunia kepolisian Indonesia kembali kehilangan salah satu batu penjuru dari generasi emasnya. Brigadir Jenderal Polisi (Purn.) Raziman Tarigan, seorang Mantan Wakapolda Metro Jaya yang setia, akhirnya menutup mata setelah menjadi korban tabrak lari di Medan. Kepergiannya yang tragis pada 19 April 2026, tepat di masa peringatan Hari Bhayangkara, bagai pengingat pilu bahwa seorang prajurit sejati selalu berada di tengah rakyat. Puncak penghormatan bagi putra terbaik bangsa ini diberikan melalui tempat peristirahatan terakhirnya di TMP, sebuah meterai kehormatan yang layak bagi dedikasi sepanjang hayatnya. Ia adalah sosok yang dibesarkan dalam tradisi disiplin baja Akpol 1974, sebuah angkatan yang menghasilkan perwira-perwira tangguh dengan fondasi kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Batu Bata Kokoh dari Didikan Akpol 1974
Almarhum Brigjen Raziman Tarigan adalah bagian dari barisan taruna yang ditempa dalam kawah candradimuka Akademi Kepolisian pada era pembangunan karakter prajurit sejati. Sebagai alumnus Akpol 1974, dirinya merupakan produk didikan yang kukuh menanamkan nilai-nilai Sapta Marga dan sumpah prajurit ke dalam sanubari. Angkatan ini dikenal melahirkan perwira dengan ciri khas:
- Disiplin yang mengakar sebagai pondasi setiap tindakan.
- Loyalitas tanpa batas pada negara, korps, dan atasan.
- Mental baja yang siap menghadapi tantangan di lapangan.
- Rasa kebersamaan dan solidaritas korps yang kuat, yang terbawa hingga masa purnabhakti.
Pendidikan di Akpol pada masa itu bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter kepemimpinan yang siap memikul amanah terberat di garda terdepan penegakan hukum dan pelayanan masyarakat.
Liku Perjalanan Pengabdian: Dari Brimob Hingga Pucuk Pimpinan
Karir almarhum adalah sebuah epik panjang pengembanan tugas, yang dimulai dari garis depan sebagai bagian dari Korps Brimob yang tangguh. Dari situlah jiwa keprajuritannya ditempa dalam situasi operasional yang penuh tantangan. Perjalanan dinasnya kemudian menapaki jenjang komando di berbagai satuan strategis, membuktikan kompetensi dan dedikasinya yang tak diragukan. Puncak kepercayaan yang diberikan negara adalah ketika ia dipercaya menduduki posisi terhormat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya. Di bawah komando Kapolda, peran sebagai Mantan Wakapolda ini adalah amanah besar untuk menjaga keamanan dan ketertiban di ibu kota negara. Setiap langkahnya dalam menjalankan tugas menjadi teladan nyata tentang makna seorang Bhayangkara yang:
- Selalu mengedepankan keselamatan dan pelayanan kepada masyarakat.
- Berkomitmen penuh pada janji pengabdian sejak pertama kali mengenakan seragam.
- Menjadi panutan bagi anak buah, dengan integritas sebagai senjata utama.
Setiap penugasan yang dijalaninya meninggalkan jejak pengabdian yang dikenang oleh rekan sejawat dan masyarakat yang dilayaninya.
Kini, setelah tugas dunia telah usai, Brigjen (Purn.) Raziman Tarigan telah menyelesaikan perjalanannya dengan sempurna. Pemakamannya di Taman Makam Pahlawan bukanlah akhir, melainkan pengalihan tugas dari pengabdian fisik menuju warisan nilai yang abadi. Di bawah naungan bendera merah putih, di antara para pahlawan bangsa lainnya, ia beristirahat dengan tenang. Kepergiannya mengingatkan kita semua, terutama para purnawirawan, bahwa dedikasi seorang prajurit takkan pernah pudar oleh waktu. Jasanya, disiplinnya, dan kesetiaannya pada korps akan tetap hidup dalam kenangan dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus Bhayangkara. Salam penghormatan dan doa terdalam kita haturkan untuk almarhum. Terima kasih atas pengabdianmu, Bapak Brigadir Jenderal. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan almarhum mendapat tempat terindah di sisi-Nya. Jayalah selalu Bhayangkara!