Di tengah kehangatan persaudaraan yang tak lekang oleh waktu, Korp Baret Merah (KOBAME) Kopassus Gunungkidul menyelenggarakan sebuah syukuran yang penuh makna, mengabadikan peringatan Hari Ulang Tahun Kopassus yang ke-73 di Omah Kayu, Wonosari. Momen yang sederhana namun khidmat ini menjadi saksi bisu betapa eratnya tali pengabdian dan jiwa korsa yang tetap mengalir, menyatukan para purnawirawan dengan prajurit yang masih aktif bertugas di satuan teritorial. Ini bukan sekadar perayaan usia, melainkan sebuah refleksi mendalam atas dedikasi tanpa batas yang telah tertanam sejak lama, membuktikan bahwa nilai-nilai luhur korps tetap menjadi darah daging di manapun kaki berpijak.
Merawat Api Tradisi di Bumi Gunungkidul
Acara di Gunungkidul ini menyajikan panorama yang mengharukan sekaligus membanggakan, di mana semangat patriotisme dan kekeluargaan menyelimuti setiap sudut pertemuan. Seperti diungkapkan Kapten Inf. Ari Muhanto dalam sambutannya, momen istimewa ini adalah bentuk rasa syukur bahwa ‘jiwa komando’ akan senantiasa hidup. Metafora “Baju PDL Darah mengalir” yang disampaikan bukan sekadar kata-kata, namun sebuah pengakuan filosofis terhadap semangat keberanian, loyalitas, dan pengabdian tanpa pamrih yang telah menjadi identitas abadi setiap prajurit baret merah. Meski medan tugas telah bergeser dari operasi khusus ke pembinaan teritorial, api nilai-nilai kejuangan Kopassus wajib tetap menyala dan menjadi suluh dalam setiap langkah pengabdian.
Jiwa Korsa: Warisan Abadi dari Satuan Elit ke Tengah Masyarakat
Bagi keluarga besar KOBAME, syukuran semacam ini adalah ritual sakral untuk menjaga ikatan batin dan melestarikan tradisi korps yang telah dibangun dengan penuh pengorbanan. Pesan untuk terus merawat jiwa korsa, persaudaraan, dan tali silaturahmi adalah warisan tak ternilai yang harus dipertahankan dan diteruskan ke generasi berikut. Pengabdian mereka kini menemukan bentuk barunya di tengah-tengah masyarakat. Para purnawirawan diingatkan peran mulianya untuk mempelopori dan membantu mengatasi kesulitan rakyat di sekitarnya, mengimplementasikan jiwa korsa dalam wujud yang lebih luas dan aplikatif. Bagi para senior yang hadir, melihat semangat itu masih hidup dan berkobar di dada penerusnya adalah suatu kebahagiaan dan kepuasan batin yang tak terhingga.
- Nilai Inti yang Dipegang Teguh: Keberanian, Kebenaran, dan Keberhasilan (“Berani – Benar – Berhasil”) sebagai mantra pengabdian.
- Transformasi Peran: Dari garda terdepan operasi khusus menjadi pelopor pembangunan dan pengayom masyarakat di wilayah teritorial.
- Fungsi Ritual: Syukuran sebagai media pemersatu, penguat ikatan emosional, dan pengingat akan janji setia kepada korps dan negara.
Peringatan HUT ke-73 ini adalah sebuah gema dari masa lalu yang masih nyaring bergaung di masa kini. Teriakan “Berani – Benar – Berhasil” bukan sekadar slogan, melainkan ikrar yang mengikat setiap angkatan dalam satu kebanggaan yang sama: kebanggaan sebagai bagian dari Kopassus, Garda Senyap untuk Negeri. Semangat yang sama yang dulu menggerakkan mereka di medan yang paling berat, kini menjadi modal berharga untuk terus berkontribusi bagi bangsa.
Dengan penuh hormat, media Berbakti mengangkat topi untuk seluruh prajurit dan purnawirawan KOBAME. Pengabdian tulus yang telah kalian tabur, baik di masa bakti aktif maupun dalam kehidupan pasca-dinas, adalah warisan nyata yang memperkuat sendi-sendi bangsa. Jiwa komando dan dedikasi tanpa pamrih yang tetap mengalir dalam diri kalian adalah bukti abadi bahwa sekali prajurit, selamanya pengabdi negara. Terima kasih atas segala pengorbanan dan keteladanan. Dirgahayu Kopassus ke-73.