Di tengah udara Surabaya yang sarat dengan gelora lautan, Markas Korps Marinir pada 18 September 2026 menjadi panggung sakral bagi sebuah tradisi yang telah mengakar puluhan tahun—Jamasan Pusaka. Bagi para purnawirawan yang hadir dengan pakaian dinas lengkap, acara ini bukanlah sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momentum hening untuk kembali menyentuh ingatan akan sumpah setia yang pernah diikrarkan di atas geladak kapal, di pantai-pantai pertempuran, dan di setiap titik medan bakti. tradisi marinir ini mengajak setiap veteran merenungkan kembali dedikasi mereka, menjaga martabat korps yang tak lekang oleh waktu.
Merawat Ingatan, Menjaga Martabat Korps
Prosesi yang penuh khidmat ini menghadirkan Letkol (Purn) Agus Pranoto, salah seorang veteran yang pernah menggenggam pusaka tersebut dalam operasi Trikora. Sambil memandang barong yang telah ditempa oleh usia dan medan laga, beliau berkata, “Jamasan bukan sekadar membersihkan logam, tapi merawat ingatan akan sumpah setia di laut mana pun.” Kata-kata itu menggema di hati setiap yang hadir. Tradisi jamasan pusaka yang diwariskan turun-temurun ini mengingatkan bahwa setiap lekuk senjata pusaka menyimpan cerita tentang kesetiaan, kegagahan, dan pengorbanan. Berikut adalah pusaka-pusaka yang dijamas dalam ritual tahunan ini:
- Barong — senjata tajam bermata dua simbol keberanian prajurit Korps Marinir.
- Tombak — lambang kewibawaan dan kehormatan dalam setiap operasi.
- Keris khas Korps Marinir — pusaka yang menyiratkan filosofi kesatuan dan kedisiplinan.
Melalui tradisi marinir ini, para purnawirawan seolah kembali merasakan getaran tanggung jawab ketika pertama kali memegang senjata, sebuah pengalaman yang telah membentuk karakter mereka sebagai prajurit sejati. Senjata-senjata itu bukan sekadar benda pusaka, melainkan saksi bisu dari setiap sumpah yang diikrarkan di medan bakti.
Pewarisan Nilai kepada Generasi Penerus
Di barisan terdepan hadir pula siswa Sekolah Calon Perwira Korps Marinir, yang sengaja dihadirkan untuk menyaksikan dan meresapi makna dari tradisi ini. Bagi mereka, jamasan pusaka adalah pelajaran hidup tentang bagaimana menghargai sejarah dan menjaga martabat korps. “Kami diajarkan bahwa senjata bukan sekadar alat, melainkan saksi bisu pengabdian para pendahulu,” ujar salah seorang siswa dengan mata berbinar. Kehadiran para purnawirawan yang berdiri tegap di sisi mereka menjadi teladan bahwa nilai-nilai kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps tidak boleh pudar. Ritual ini menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu gemilang dengan masa depan yang penuh tantangan, memastikan bahwa korps marinir terus diwariskan dengan penuh rasa hormat.
Di penghujung acara, saat pusaka-pusaka kembali ditempatkan pada altar kehormatan, suasana haru menyelimuti ruangan. Para purnawirawan saling berpandangan, seolah berjanji dalam diam bahwa kenangan dan sumpah setia tidak akan pernah usang. Kepada seluruh purnawirawan yang telah mengabdikan jiwa raga bagi bangsa dan negara, kami sampaikan penghormatan setinggi-tingginya. Jasanmu abadi, martabat korps tetap terjaga. Semoga semangat pengabdian ini terus menginspirasi generasi penerus untuk menjaga kehormatan Korps Marinir Indonesia.