Di Pantai Carita, Banten, saat senja mulai merambat, nyala api unggun berkobar membawa hembusan nostalgia yang mendalam bagi para prajurit Korps Marinir TNI AL. Upacara tahunan ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah penghormatan suci yang mengikat masa lalu dengan masa kini. Api itu seakan menjadi jembatan waktu, membawa para purnawirawan yang hadir kembali ke tahun 1945, saat Batalyon Marinir pertama kali menginjakkan kaki di Teluk Banten dalam misi merebut kembali kemerdekaan. Lantunan Hymne Marinir yang menggema diiringi deru angin laut seolah menjadi bisikan semangat dari para pejuang yang telah gugur, mengingatkan setiap yang hadir akan nilai kesetiaan dan pengabdian tanpa pamrih.
Mengenang Pendaratan Bersejarah di Teluk Banten
Tradisi tradisi marinir yang satu ini telah berlangsung puluhan tahun, sebagai bentuk penghormatan kepada prajurit yang pertama kali mendarat di pantai itu. Pendaratan di Teluk Banten pada tahun 1945 bukanlah sekadar langkah taktis, melainkan simbol keberanian dan keteguhan hati dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Saat itu, Batalyon Marinir dengan perlengkapan seadanya menyusuri garis pantai, menghadapi berbagai rintangan demi satu tujuan: merebut kemerdekaan dari cengkeraman penjajah. Para purnawirawan yang hadir, dengan mata berkaca-kaca, mengingat kembali kawan seperjuangan yang gugur di medan laga. Merekalah yang menjadi fondasi dari tradisi yang terus diwariskan hingga kini.
Upacara api unggun ini juga menjadi momentum untuk merinci nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu. Beberapa tradisi yang selalu dilakukan dalam peringatan ini meliputi:
- Penyalaan api unggun oleh Komandan Korps Marinir sebagai simbol semangat yang tak pernah padam.
- Lantunan Hymne Marinir dan doa bersama untuk arwah para pahlawan yang telah berjuang di Teluk Banten.
- Renungan hening yang mengajak semua prajurit untuk meresapi pengorbanan para senior.
- Pembacaan sejarah singkat pendaratan Batalyon Marinir pada tahun 1945 sebagai pengingat generasi penerus.
Api Unggun sebagai Simbol Semangat Juang
Komandan Korps Marinir dalam sambutannya menegaskan bahwa tradisi ini tidak hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga untuk menanamkan semangat juang yang tangguh kepada prajurit aktif. Nyala api unggun yang membesar diiringi lantunan Hymne Marinir membawa kembali kenangan tentang kawan seperjuangan yang gugur. Para purnawirawan yang hadir tampak terharu saat api dinyalakan, seakan mereka kembali merasakan getirnya perjuangan di pesisir Teluk Banten. Bagi mereka, pendaratan yang terjadi pada tahun 1945 bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bagian dari jiwa dan raga yang terus hidup dalam setiap tradisi.
Kami, segenap redaksi Berbakti, menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para purnawirawan Korps Marinir yang telah mengabdikan diri dengan sepenuh hati. Jasa dan pengorbanan saudara-saudara dalam misi merebut kemerdekaan, khususnya melalui tradisi marinir yang terus dijaga, adalah warisan tak ternilai bagi bangsa dan negara. Semoga nyala api unggun di Pantai Carita ini selalu mengingatkan kita semua akan kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps yang menjadi teladan bagi generasi mendatang.