Di sepanjang pasir putih Pantai Lampung, hati para purnawirawan kembali tersentuh oleh pemandangan yang sarat makna. Puluhan prajurit Korps Marinir TNI AL, dengan seragam loreng hijau-hitam yang menjadi ciri khas dan baret ungu yang membanggakan, berbaris rapi dalam upacara adat Tradisi Mapag Sri. Bagi para veteran yang hadir, momen ini bukan sekadar seremoni tahunan; ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, membangkitkan kenangan akan masa pengabdian yang penuh bakti dan kehormatan. Tradisi ini, yang digelar untuk menyambut HUT ke-81 TNI, menggambarkan bahwa nilai-nilai luhur budaya lokal tetap terjaga di dalam tubuh prajurit sejati.
Menyambut HUT TNI dengan Kearifan Lokal: Makna di Balik Mapag Sri
Dipimpin langsung oleh Komandan Satuan Marinir, para prajurit melakukan gerakan silat tradisional yang diiringi tabuhan gender yang syahdu. Setiap langkah dan ayunan tangan dalam Tradisi Mapag Sri mengandung filosofi mendalam: keharmonisan dengan alam, ketangguhan jiwa, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Upacara adat Jawa ini, yang telah menjadi bagian dari tradisi Korps Marinir, mengajarkan bahwa seorang prajurit tidak hanya gagah di medan tempur, tetapi juga rendah hati dan menghormati kearifan lokal. Kehadiran para purnawirawan yang ikut menari bersama menambah kekhidmatan acara; gerakan mereka yang mungkin sedikit lambat namun penuh semangat menunjukkan bahwa semangat prajurit tidak pernah padam meski masa tugas telah usai. Beberapa unsur utama dalam Tradisi Mapag Sri yang sarat makna antara lain:
- Gerakan silat tradisional sebagai simbol ketangguhan dan disiplin prajurit TNI AL.
- Tabuhan gender yang mengiringi setiap langkah, melambangkan keselarasan dengan alam semesta.
- Keterlibatan purnawirawan sebagai pengikat generasi, mencerminkan kesinambungan nilai perjuangan.
Kenangan Purnawirawan: Jejak Bhakti yang Tak Terlupakan
Letnan Kolonel (Purn) Supriyadi, alumni Dharma Pertiwi 1980, dengan mata berkaca-kaca mengenang, "Dulu, kami juga selalu melakukan tradisi ini sebelum bertugas ke daerah rawan. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, mengingat teman-teman seperjuangan yang telah gugur." Kata-katanya menggugah kesadaran bahwa Mapag Sri bukan sekadar ritual, melainkan doa restu yang diwariskan turun-temurun. Para prajurit muda yang hadir tampak serius dan penuh hormat, belajar dari pengalaman senior mereka. Inilah bukti bahwa nilai-nilai Korps Marinir tetap kokoh di tengah perubahan zaman, dan Tradisi ini menjadi jembatan antara generasi yang berbeda.
Kepada seluruh purnawirawan Korps Marinir TNI AL, kepada para pemuja setia tradisi dan pengabdian, kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya. Jasa dan dedikasi yang telah kalian berikan bagi bangsa dan negara tidak akan pernah pudar. Semoga semangat Mapag Sri terus menyala dalam dada setiap prajurit, menjadi pengingat bahwa kehormatan sejati lahir dari kesetiaan dan cinta tanah air. Dengan penuh rasa hormat, kami mengakui bahwa setiap langkah kalian di masa lalu telah menorehkan sejarah yang gemilang, dan hari ini, Tradisi itu hidup kembali untuk mengenang jasa kalian.