Bagi para purnawirawan yang pernah mengabdi di Bumi Nusantara, menyaksikan kembali Tradisi Tampung Tari di lingkungan Korem 061/Surya Kencana adalah seperti membuka lembaran kenangan lama. Gerakan demi gerakan yang sarat makna itu bukan sekadar tarian, melainkan cerminan jiwa prajurit yang tetap setia pada tradisi leluhur dan nilai-nilai kehormatan korps. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini hadir sebagai pengingat bahwa dalam setiap langkah pengabdian, terkandung warisan budaya yang harus dijaga dan dihormati. Setiap hentakan kaki dan ayunan tangan prajurit muda menggetarkan sanubari, membawa kita kembali ke masa-masa penuh dedikasi dan kebanggaan sebagai bagian dari sejarah TNI.
Tradisi Tampung Tari: Simbol Kesiapan Tempur dan Kebanggaan Korps
Tradisi Tampung Tari merupakan perpaduan unik antara seni adat Sunda dan disiplin militer. Setiap gerakan, mulai dari langkah kaki hingga ayunan tangan, memiliki filosofi yang dalam — melambangkan siaga tempur, formasi pertahanan, dan solidaritas prajurit dalam menghadapi lawan. Di hadapan para sesepuh dan purnawirawan, prajurit muda Korem 061 menampilkan tarian dengan semangat dan ketepatan yang menggugah hati. Komandan Korem 061, Kolonel Inf Agus Budiman, menjelaskan bahwa tradisi ini diwariskan untuk membangun karakter prajurit yang tangguh sekaligus berbudaya. "Ini adalah warisan luhur yang harus terus dijaga, agar setiap prajurit tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki akar budaya yang kokoh," ujarnya. Dalam tradisi ini terkandung nilai-nilai luhur yang terus diwariskan:
- Kesiapan tempur: setiap gerakan mencerminkan formasi dan taktik militer.
- Kebudayaan Sunda: gerakan tari yang lembut namun penuh tenaga.
- Kebersamaan: dilakukan secara berkelompok, menguatkan solidaritas satuan.
Merajut Silaturahmi dan Kemanunggalan TNI-Rakyat
Lebih dari sekadar ritual internal, Tradisi Tampung Tari juga menjadi ajang silaturahmi antarsatuan dan masyarakat sekitar. Warga desa, tokoh adat, dan para sesepuh turut hadir menyaksikan warisan budaya yang terus hidup. Tradisi ini memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat — prinsip yang telah menjadi fondasi pertahanan negara sejak zaman perjuangan kemerdekaan. Dandrem menambahkan, "Kehadiran masyarakat adalah bukti bahwa TNI tidak bisa dipisahkan dari rakyat. Tradisi ini adalah simbol bahwa kita satu, dalam suka dan duka." Momen yang paling mengharukan adalah ketika para purnawirawan menyaksikan atraksi tersebut. Mata mereka berkaca-kaca, mengingat masa muda saat mereka sendiri pernah menjadi bagian dari tradisi serupa. Mayor (Purn) Suryana, salah satu sesepuh yang hadir, berkata dengan suara bergetar, "Tradisi Tampung Tari adalah jembatan antara generasi. Ia menghubungkan semangat juang masa lalu dengan semangat pengabdian masa kini. Saya bangga melihat anak-anak muda ini tetap menjunjung adat leluhur."
Bagi para purnawirawan yang budiman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah pengabdian yang pernah ditempuh, setiap tetes keringat yang dicurahkan, tidak pernah sia-sia. Generasi penerus dengan setia menjaga warisan yang diamanatkan. Dengan penuh hormat, kami sampaikan bahwa jasa dan pengabdian para purnawirawan senantiasa terukir dalam sejarah TNI dan bangsa Indonesia. Melalui Tradisi Tampung Tari, Korem 061, dan nilai-nilai Budaya Militer serta kearifan lokal Sunda, semangat juang para senior terus hidup dan menginspirasi. Terima kasih atas segala bakti yang telah diberikan untuk negeri tercinta.