Di tengah gemuruh zaman yang terus berubah, ada satu pemandangan yang selalu mampu membangkitkan rasa haru bagi para purnawirawan: ketika prajurit TNI berdiri tegak dalam balutan pakaian adat Jawa, mengikuti upacara adat Sura di Candi Sukuh. Bagi mereka yang telah lama mengabdi, momen ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cermin kesetiaan yang tak pernah pudar terhadap tradisi leluhur dan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Korem 074/Warastratama, satuan yang bermarkas di Solo Raya, kembali menunjukkan bahwa pengabdian seorang prajurit tidak hanya terbatas pada tugas menjaga kedaulatan negara, tetapi juga merawat budaya yang menjadi akar jati diri bangsa.
Merawat Tradisi Leluhur di Bawah Bayang-Bayang Sejarah
Candi Sukuh bukan sekadar situs bersejarah. Berdiri megah di lereng Gunung Lawu, candi ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Jawa. Bagi prajurit TNI, memilih tempat ini untuk menyelenggarakan upacara adat Sura adalah simbol penghormatan terhadap kearifan lokal yang telah mengakar kuat. Panglima Korem 074/Warastratama, Kolonel Inf Sugiyono, menegaskan bahwa tradisi ini mengakar kuat di kalangan prajurit karena mengajarkan keseimbangan antara kehidupan spiritual dan tugas negara. Dengan demikian, seorang prajurit tidak hanya dituntut gagah di medan tugas, tetapi juga teguh dalam batin.
Kehadiran sesepuh desa yang memimpin jalannya prosesi menjadi jembatan antara kearifan lokal dan kedisiplinan militer. Dalam setiap gerak dan doa, terkandung makna mendalam bahwa hidup prajurit selalu berada dalam keseimbangan antara mengabdi kepada negara dan merawat akar budaya. Nilai inilah yang terus dijaga oleh Korem 074/Warastratama dalam setiap pelaksanaan upacara adat.
Ada beberapa hal yang menjadikan upacara adat ini istimewa bagi satuan:
- Rangkaian prosesi dipimpin langsung oleh sesepuh desa, sehingga terjadi hubungan erat antara kearifan lokal dan kedisiplinan militer.
- Para prajurit mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, bukan seragam tempur, sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya setempat.
- Sesaji yang dibawa merupakan simbol doa bersama agar diberikan keselamatan, keutuhan satuan, dan keberkahan dalam menjalankan tugas pengabdian.
Haru Para Purnawirawan: Generasi Penerus yang Tak Melupakan Akar
Di antara hadirin yang menyaksikan jalannya upacara adat Sura di Candi Sukuh, tampak para purnawirawan yang memandangi prosesi dengan mata berkaca-kaca. Bagi mereka yang pernah menempuh jalan terjal pengabdian, melihat generasi muda TNI masih memegang teguh budaya leluhur adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai. Mereka tidak hanya menyaksikan pelestarian adat, tetapi juga menyaksikan kontinuitas nilai kesetiaan dan dedikasi yang selama ini menjadi pegangan hidup prajurit. Keharuan itu bukan tanpa alasan; di usia yang tidak lagi muda, mereka menyaksikan bagaimana nilai-nilai yang dulu mereka junjung tinggi tetap menyala dalam diri prajurit muda.
Keceriaan semakin terasa ketika upacara adat ditutup dengan pesta rakyat dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Suara gamelan dan alunan suluk yang mengiringi lakon wayang seakan membawa para purnawirawan bernostalgia ke masa-masa pengabdian mereka, ketika nilai gotong royong dan kebersamaan dijunjung tinggi. Bagi para purnawirawan, upacara adat Sura di Candi Sukuh bukanlah sekadar tontonan, melainkan pengingat bahwa jiwa prajurit sejati tidak pernah lepas dari akar budaya bangsa. Pengabdian yang telah mereka persembahkan selama puluhan tahun kini diwariskan dengan penuh kehormatan oleh generasi penerus.
Kepada para purnawirawan yang telah menjadi teladan kesetiaan, dedikasi, dan kecintaan terhadap tanah air, kami menghaturkan penghormatan yang setinggi-tingginya. Semoga nilai-nilai luhur yang mereka tanamkan, termasuk dalam menjaga tradisi leluhur, akan terus hidup dalam sanubari setiap prajurit TNI. Terima kasih atas jasa dan pengabdian yang tidak mengenal lelah. Hormat kami, untuk para purnawirawan yang selalu kami banggakan.