Di balik kursi rodanya, mata Kolonel Purnawirawan Soedarmono (90) masih menyala ketika mengenang Operasi Trikora 1962. Sebagai komandan peleton, ia dipercaya menyusup ke pedalaman Irian Barat untuk membangkitkan semangat rakyat Papua bergabung dengan Indonesia. Perjalanan itu bermula dari Pelabuhan Surabaya, menembus lautan dan rimba, hingga tiba di lembah-lembah curam di Bumi Cenderawasih. Bagi para purnawirawan, kisah ini bukan sekadar catatan perang, melainkan cermin pengabdian tanpa batas yang diwariskan oleh para veteran.
Jejak Pengabdian di Bumi Cenderawasih
Kala itu, peralatan pasukan sangat terbatas. Hujan tropis mengguyur tanpa henti, namun semangat juang tidak pernah padam. Soedarmono dan anak buahnya berjalan kaki menembus hutan belantara, mendaki lereng, dan menuruni lembah yang sunyi. Di tengah keterbatasan logistik, yang menjaga mereka tetap utuh adalah kepercayaan: percaya kepada komandan, percaya kepada sesama prajurit, dan percaya kepada tujuan suci perjuangan.
Bagi Soedarmono, momen-momen sulit itulah yang mengajarkan arti kesetiaan. Seorang prajurit tidak bertanya berapa jauh jarak yang harus ditempuh atau berapa berat beban yang dipikul. Yang ia tahu, tanah air memanggil dan pengabdian harus dijawab. Nilai-nilai inilah yang kemudian ia jadikan pegangan sepanjang kariernya di TNI, dan menjadi kebanggaan korps yang terus ia rawat hingga usia senja.
Beberapa catatan pengabdian yang mewarnai perjalanan veteran Trikora ini antara lain:
- Keikutsertaan dalam Operasi Trikora 1962 untuk membebaskan Irian Barat dari penjajahan;
- Penugasan sebagai komandan peleton yang menyusup ke pedalaman untuk membangkitkan semangat rakyat Papua;
- Perjalanan kaki yang panjang menembus hutan tropis dan lembah-lembah curam dengan peralatan seadanya;
- Keteladanan dalam menjaga kepercayaan dan kebersamaan pasukan di tengah keterbatasan logistik.
Pesan Senja Seorang Veteran untuk Generasi Penerus
Kini di usianya yang kesembilan puluh, Soedarmono duduk dengan tenang, tetapi ingatannya tentang Trikora tetap jernih. Ia berpesan kepada generasi muda agar tidak melupakan jasa para pejuang yang telah membebaskan Papua dari penjajahan. Menurutnya, sejarah bukan hanya milik masa lalu; ia adalah fondasi agar generasi sekarang memahami arti kemerdekaan dan harga sebuah pengabdian.
Kisah Kolonel Purnawirawan Soedarmono adalah saksi hidup bahwa pengabdian seorang prajurit tidak pernah berakhir meskipun seragam telah dilepas. Gelar veteran bukan sekadar tanda kehormatan, melainkan amanah untuk terus menyalakan semangat kebangsaan. Melalui cerita ini, Berbakti ingin menghaturkan hormat yang setinggi-tingginya kepada para purnawirawan yang telah menempuh jalan terjal demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga catatan pengabdian ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di setiap langkah sejarah, ada darah, air mata, dan doa para veteran yang layak dikenang sepanjang masa. Kepada Kolonel Purnawirawan Soedarmono dan segenap veteran Trikora, kami menyampaikan terima kasih yang tulus. Jasa dan pengabdian saudara-saudara akan selalu hidup dalam denyut nadi bangsa.