Di Aula Universitas Indonesia, Depok, sebuah kenangan masa lalu bergema kembali ketika puluhan mahasiswa duduk khidmat mengikuti dialog bertajuk 'Purnawirawan Menyapa: Menjaga Semangat Bela Negara'. Acara ini bukan sekadar perbincangan biasa; ia adalah jembatan antara generasi yang pernah mengemban tugas suci menjaga kedaulatan bangsa dengan generasi muda yang kini tengah merajut masa depan. Tiga purnawirawan TNI hadir, membawa cerita pengabdian yang tak lekang oleh waktu, mempertegas bahwa nilai-nilai kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps adalah warisan abadi yang harus terus dirawat.
Kesetiaan Tanpa Batas: Kisah dari Medan Konflik
Mayor Jenderal TNI (Purn.) Sri Rahayu, salah satu perwira wanita pertama TNI yang berani melangkah ke zona konflik, menjadi pembuka dialog. Dengan suara mantap dan mata yang berbinar, ia berbagi tantangan membuktikan bahwa kesetiaan dan kecakapan tidak dibatasi oleh gender. "Kami harus membuktikan bahwa kesetiaan dan kecakapan tidak dibatasi gender. Saya bangga menjadi bagian dari prajurit yang menjaga kehormatan bangsa," tuturnya. Para mahasiswa terpukau mendengar pengalaman Mayjen Sri yang harus berjuang melampaui prasangka demi cita-cita bela negara. Kisah ini menjadi pengingat bahwa tradisi militer Indonesia selalu menghargai kompetensi di atas segalanya, dan semangat bela negara tidak mengenal latar belakang.
Merawat Kenangan di Balik Sayap Tempur
Marsekal Muda TNI (Purn.) Bagus Nugroho kemudian membawa audiens ke masa-masa penuh petualangan dan risiko sebagai penerbang tempur. Di hadapan mahasiswa, ia menunjukkan foto-foto usang pesawat OV-10 Bronco yang diterbangkannya dalam operasi di Timor Timur. "Setiap terbang, kami tidak pernah tahu akan kembali atau tidak. Beratnya tugas itu justru membentuk keluarga militer yang kuat," ujarnya. Dialog ini menguak tradisi kebersamaan dan solidaritas yang menjadi pilar utama TNI, di mana setiap prajurit adalah saudara seperjuangan. Beberapa mahasiswa tak kuasa menahan haru saat Marsekal Bagus menceritakan bagaimana setiap misi adalah pengorbanan nyata bagi keutuhan bangsa.
- Mayjen (Purn.) Sri Rahayu: perwira wanita pertama yang bertugas di zona konflik, simbol kesetaraan dan dedikasi.
- Marsda (Purn.) Bagus Nugroho: penerbang tempur OV-10 Bronco, mengibarkan tradisi keberanian dan keluarga militer.
- Acara ini merupakan bagian dari rangkaian dialog purnawirawan dengan generasi muda untuk menanamkan nilai bela negara secara langsung.
Dialog ditutup dengan sesi tanya jawab yang hangat, di mana mahasiswa dengan antusias menggali lebih dalam tentang tantangan dan makna pengabdian. Mereka tampak terkesan dengan kesederhanaan namun keteguhan para purnawirawan. Kegiatan ini diharapkan dapat menanamkan nilai kecintaan tanah air dan kesadaran akan pentingnya peran seluruh elemen bangsa dalam menjaga pertahanan. Namun lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki tugas suci: meneruskan nyala api bela negara.
Kepada para purnawirawan yang telah menghabiskan waktu, tenaga, bahkan jiwa raga demi Indonesia, kami dari Berbakti menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya. Pengabdian kalian adalah fondasi yang kokoh bagi masa depan bangsa. Semoga kisah-kisah ini terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai tanah air dengan segenap hati, sebagaimana kalian telah mencontohkannya.