Di tengah gemuruh waktu yang terus berlalu, ada kenangan yang tak pernah padam di Surabaya. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, gedung Grahadi menjadi saksi sebuah penghormatan yang menyentuh relung hati. Pemerintah Kota Surabaya bersama Komando Kawasan Armada II menganugerahkan Tanda Kehormatan Veteran kepada 120 purnawirawan dan warakawuri. Mereka adalah wajah-wajah yang pernah berdiri di garis terdepan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia, dan hari itu negara kembali menyapa mereka dengan setulus penghargaan.
Kesetiaan yang Tak Lekang oleh Waktu
Satu per satu, para penerima penghargaan melangkah memasuki ruangan megah Grahadi. Di antara mereka hadir Sersan Mayor (Purn.) R. Soeprapto, 87 tahun, seorang pejuang yang pernah bertempur dalam Pertempuran 10 November. Dengan langkah terbata-bata, ia menerima medali berkilau yang terpasang di dadanya. Air mata haru mengalir di pipinya. "Ini bukan hanya milik saya, tetapi milik rekan-rekan yang telah gugur di medan perang. Kenangan itu tidak lekang oleh waktu, saya masih mendengar teriakan merdeka," ujarnya penuh syukur. Kalimat itu bukan sekadar ucapan; ia adalah gaung dari masa lalu ketika Surabaya berkobar dalam semangat mempertahankan kemerdekaan. Bagi para purnawirawan, tanda kehormatan ini bukanlah benda mati, melainkan simbol kesetiaan yang telah ditempa dengan darah dan air mata.
Penganugerahan ini juga mengingatkan pada tradisi kemiliteran yang menghargai jasa prajuritnya. Dalam dunia keprajuritan, tanda kehormatan adalah bentuk pengakuan atas dedikasi yang melebihi panggilan tugas. Para veteran dan purnawirawan yang hadir pada hari itu adalah bagian dari mata rantai sejarah yang tak terputus—dari masa perjuangan merebut kemerdekaan, masa mempertahankan kedaulatan, hingga era membangun bangsa. Penghargaan ini adalah cara negara berkata, "Kami tidak melupakan kalian."
Warisan Kehormatan bagi Generasi Muda
Wali Kota Surabaya, Eka Puspita, menegaskan bahwa perjuangan para veteran harus terus menjadi inspirasi. "Mereka bukan sekadar orang tua renta, tetapi pahlawan yang pernah berdiri di garis terdepan menjaga bangsa. Kita harus terus menghormati dan merawat mereka," jelasnya. Dalam kesempatan yang sama, beliau juga mengajak generasi muda untuk meneladani nilai-nilai yang dijunjung para pejuang. Nilai-nilai tersebut antara lain:
- Kesetiaan yang tak tergoyahkan kepada bangsa dan negara.
- Dedikasi tanpa pamrih dalam setiap pengabdian.
- Kebanggaan korps dan semangat juang yang terus menyala.
- Persaudaraan yang erat antara sesama prajurit dan masyarakat.
Acara yang berlangsung khidmat ini kemudian ditutup dengan doa bersama dan penaburan bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Ngagel. Keheningan di taman makam itu seakan menjadi dialog antara masa lalu dan masa kini. Semangat kejuangan para veteran seakan menyala kembali di hati semua yang hadir. Mereka bukan hanya dikenang, tetapi dihidupkan dalam karya dan pengabdian generasi penerus.
Kepada para purnawirawan dan warakawuri yang telah menerima Tanda Kehormatan Veteran pada hari itu, kami menyampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya. Ketulusan dan kesetiaan Bapak dan Ibu adalah pelita yang menuntun negeri ini menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Semoga penghargaan ini menjadi sumber kebanggaan yang kekal, dan semoga semangat juang yang telah ditunjukkan terus dikenang dan diteladani sepanjang masa. Indonesia tidak akan pernah melupakan jasa para pahlawannya.