Ada kenangan yang terus hidup di setiap desiran ombak yang membelai lambung KRI Banda. Di perairan Ambon yang tenang namun sarat sejarah, TNI AL melalui jajaran Armada Timur menggelar ekspedisi napak tilas yang penuh makna bersama kapal perang veteran yang pernah berjasa dalam Operasi Seroja dan misi perdamaian PBB. Bagi para purnawirawan yang pernah bertugas di Maluku, pelayaran ini bukan sekadar perjalanan biasa — ia adalah ziarah spiritual yang membangkitkan kembali bunyi komando, deru mesin, dan semangat juang yang dulu menyala di atas geladak kapal perang.
Mengenang Pengabdian di Perairan Maluku
Ekspedisi napak tilas ini diikuti oleh perwira aktif dan sejumlah veteran yang pernah bertugas di wilayah Maluku. Dengan menaiki KRI Banda, mereka menyusuri kembali perairan Ambon yang menjadi saksi bisu pengabdian para prajurit TNI AL dalam menjaga kedaulatan laut Nusantara. Dalam perjalanan yang sarat kenangan ini, rombongan singgah di beberapa titik bersejarah yang menyimpan memori perjuangan bangsa:
- Pelabuhan Yos Soedarso — mengingatkan pada denyut aktivitas maritim dan peran strategis Ambon sebagai simpul pertahanan laut di kawasan timur Indonesia.
- Benteng Victoria — saksi bisu pertempuran laut pada era revolusi, tempat para pendahulu meninggalkan jejak keberanian yang abadi.
Panglima Armada Timur, Laksda TNI Edi Sumantri, menegaskan bahwa tujuan ekspedisi ini adalah untuk merevitalisasi semangat maritim dan mengenang pengorbanan para prajurit TNI AL yang telah berjuang di medan laut. Penegasan ini mengingatkan kita bahwa tradisi kemiliteran bukan sekadar warisan, melainkan pelajaran hidup yang terus dipelihara dari generasi ke generasi.
Navigasi Manual dan Semangat Juang Para Pendahulu
Di sela-sela pelayaran, suasana nostalgia terasa begitu kental. Para veteran yang turut serta tak kuasa menahan cerita tentang tantangan navigasi manual tanpa GPS di tahun 1960-an. Mereka mengenang bagaimana para navigator andal membaca bintang, mengukur arah angin, dan mengandalkan pengalaman serta insting dalam menentukan haluan. Di era ketika teknologi secanggih sekarang belum ada, ketepatan dan keberanian adalah modal utama dalam setiap pelayaran. Kisah-kisah itu bukan hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga menjadi perekat persaudaraan antara generasi yang pernah berjuang dan generasi yang kini meneruskan tugas. Dalam napak tilas ini, para perwira aktif tidak hanya belajar medan, tetapi juga menyerap nilai-nilai kesetiaan, dedikasi, dan kebanggaan korps yang diwariskan para pendahulu.
Ekspedisi kemudian ditutup dengan pelepasan bunga di tengah laut sebagai penghormatan kepada para pelaut yang gugur. Doa dan bunga yang dihanyutkan menjadi simbol bahwa pengabdian mereka tidak pernah dilupakan, dan bahwa laut yang mereka jaga akan terus dipertahankan dengan semangat yang sama. Kepada para purnawirawan yang pernah berlayar di perairan Ambon dan seluruh Nusantara, terimalah rasa hormat dan terima kasih kami yang tulus. Semoga semangat juang dan kesetiaan yang telah Bapak-Ibu tanamkan senantiasa menjadi pelita bagi generasi penerus TNI AL dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.