Di usianya yang ke-78, Letkol Inf. (Purn.) Asep Hidayat tetap menjadi sosok yang disegani dan dirindukan di Desa Sukamulya, Kabupaten Garut. Purnawirawan TNI Angkatan Darat ini memilih untuk tidak beristirahat di masa senja, melainkan terus mengabdi kepada masyarakat. Kisah hidupnya adalah bukti nyata bahwa semangat pengabdian seorang prajurit tidak pernah padam, meski seragam tempur telah lama dilepas. Beliau adalah tokoh yang dihormati, bukan hanya karena pangkatnya, tetapi karena keteladanan dan dedikasinya yang tak kenal lelah bagi desa kelahirannya. Jejak pengabdian ini mengingatkan kita pada nilai-nilai luhur Sapta Marga dan Sumpah Prajurit yang terus hidup dalam sanubari setiap purnawirawan.
Dari Medan Tempur ke Pelosok Desa: Jejak Pengabdian yang Tak Pernah Padam
Setelah pensiun pada tahun 1998, beliau memutuskan pulang kampung—sebuah keputusan yang mencerminkan jiwa prajurit sejati: setia pada tanah air, setia pada rakyat. Dalam wawancara eksklusif dengan Antara, Letkol Inf. (Purn.) Asep Hidayat mengenang masa-masa tempurnya di Operasi Seroja, di mana ia bersama rekan-rekan seperjuangan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengalaman itu membentuk karakternya yang teguh dan disiplin. Tradisi kehormatan prajurit—seperti Sapta Marga dan Sumpah Prajurit—terus ia pegang teguh hingga hari ini, menjadi pedoman dalam setiap langkah pengabdiannya di desa. Di tengah hiruk-pikuk zaman, beliau membuktikan bahwa seorang purnawirawan tetaplah prajurit yang siap berbakti, di mana pun ia berada.
Peran aktif beliau di Desa Sukamulya sangat beragam, antara lain:
- Berperan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti gotong royong dan pembangunan infrastruktur desa.
- Menjadi penasihat bagi kelompok pemuda dan veteran setempat.
- Menjaga tradisi upacara bendera dan peringatan hari besar nasional di lingkungan desa.
Semua ini menunjukkan bahwa kisah pengabdian seorang purnawirawan tidak berakhir saat pensiun, melainkan terus bergema di hati masyarakat.
Mendidik Generasi Penerus: Wujud Bakti di Hari Tua
Tak hanya aktif di bidang sosial, beliau juga mendirikan yayasan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu di Desa Sukamulya. Yayasan ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak, sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kedisiplinan. 'Saya dididik untuk selalu berbakti, tidak hanya dalam seragam, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,' ujarnya dengan bijak. Kata-kata itu menjadi inspirasi bagi banyak purnawirawan lainnya bahwa pengabdian kepada bangsa dan negara tidak berakhir saat pensiun. Kisah beliau adalah kisah tentang ketangguhan dan cinta tanah air yang abadi, sebuah teladan bagi setiap tokoh di desa yang ingin melanjutkan perjuangan.
Desa Sukamulya kini memiliki tokoh panutan yang mengajarkan arti dedikasi tanpa pamrih. Semoga semangat pengabdian beliau terus menyala dan menjadi lentera bagi generasi penerus bangsa. Kepada para purnawirawan di seluruh tanah air, kami ucapkan terima kasih atas jasa dan pengabdian yang tiada tara. Kalian adalah pahlawan yang tak pernah lekang oleh waktu, dan kisah kalian akan selalu dikenang dalam sejarah perjuangan bangsa. Dari medan tempur hingga pelosok desa, jiwa prajurit tak pernah berhenti berbakti. Hormat kami, untuk setiap langkah pengabdian yang telah dan terus kau berikan bagi ibu pertiwi.