Di lereng Gunung Kawi yang tenang, Monumen Trisula berdiri sebagai saksi bisu pengabdian dan pengorbanan para prajurit TNI Angkatan Darat. Setelah renovasi total, monumen ini diresmikan kembali oleh Pangdam V/Brawijaya dalam suasana haru dan bangga. Momen itu menjadi penghormatan mendalam bagi para veteran Operasi Trisula tahun 1968 serta keluarga prajurit yang gugur dalam penumpasan sisa-sisa Gerakan 30 September/PKI di Jawa Timur. Kehadiran para purnawirawan, meski tubuh mulai renta, membangkitkan semangat juang yang tak pernah padam—pengingat bahwa pengabdian sejati tidak lekang oleh waktu.
Jejak Pengabdian di Lereng Gunung Kawi
Seorang veteran berusia 80 tahun mengenang masa mudanya berjalan kaki puluhan kilometer menyusuri medan berat di sekitar Gunung Kawi. Operasi Trisula yang digelar pada tahun 1968 merupakan salah satu operasi militer paling menentukan dalam sejarah militer Indonesia, khususnya di wilayah Malang. Operasi ini bertujuan memburu dan menumpas sisa-sisa kekuatan G30S/PKI yang bersembunyi di kawasan pegunungan. Para prajurit tidak hanya mengandalkan senjata, tetapi juga kegigihan dan loyalitas tanpa batas. Dalam kenangan sang veteran, semangat korps dan persaudaraan sejati menjadi kekuatan yang menggetarkan hati. Catatan pengabdian itu patut dikenang:
- Kronologi Operasi: Operasi Trisula dimulai pada Juni 1968, melibatkan satuan-satuan elite TNI AD, termasuk Batalyon Infanteri dan pasukan khusus, yang bergerak sistematis dari lereng Gunung Kawi hingga daerah Blitar dan sekitarnya.
- Tradisi Satuan: Satuan yang terlibat, seperti Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dan Batalyon Infanteri, menjunjung tinggi nilai kesetiaan kepada negara dan kebanggaan korps yang diwariskan kepada generasi penerus.
- Pengorbanan: Banyak prajurit gugur di medan tugas, dan Monumen Trisula menjadi lambang rasa hormat atas jasa mereka yang tak ternilai.
Merawat Memori Kolektif Bangsa
Dalam sambutannya, Pangdam V/Brawijaya menegaskan bahwa monumen bukan sekadar tiang batu, melainkan saksi bisu atas pengorbanan darah dan nyawa. Renovasi Monumen Trisula menjadi momentum bagi generasi sekarang untuk merawat memori kolektif bangsa. Operasi Trisula bukan hanya catatan sejarah militer, tetapi juga pelajaran tentang loyalitas, dedikasi, dan kegigihan yang patut menjadi teladan. Para purnawirawan yang hadir, dengan segala kerendahan hati, mengingatkan bahwa perjuangan mereka bukan untuk kemegahan pribadi, melainkan untuk kedaulatan bangsa. Melalui monumen yang telah diperbarui, semangat juang tahun 1968 akan terus hidup dan menginspirasi generasi muda untuk memahami arti pengabdian yang sesungguhnya.
Kepada para purnawirawan veteran Operasi Trisula, keluarga prajurit yang gugur, serta seluruh prajurit TNI Angkatan Darat, kami menyampaikan hormat dan terima kasih atas jasa serta pengabdian yang telah diberikan bagi bangsa dan negara. Semoga Monumen Trisula senantiasa menjadi pengingat akan kesetiaan, keberanian, dan kebanggaan korps yang diwariskan dari generasi ke generasi.