Dalam kilauan ingatan yang selalu hidup di hati setiap purnawirawan, pengabdian Kontingen Garuda di tanah Kongo pada dekade 1960-an merupakan salah satu babak paling mulia dalam sejarah militer Indonesia. Saat jiwa korsa dan semangat mengabdi untuk perdamaian dunia diuji, prajurit-prajurit kita membuktikan bahwa Dharma Bhakti tidak mengenal batas benua. Peluncuran buku 'Napak Tilas Dharma Bhakti: Kontingen Garuda di Kongo' pada Senin, 2 Juni 2026, di Gedung Arsip Nasional, bukan sekadar acara formal, melainkan suatu penghormatan yang khidmat terhadap setiap langkah kaki, setiap tetes keringat, dan setiap doa yang pernah dihaturkan para pendahulu di medan misi PBB yang penuh tantangan.
Merajut Sejarah untuk Warisan Kebanggaan Korps
Buku ini hadir laksana monumen dalam bentuk kata-kata, yang dengan teliti merangkai kembali mozaik perjalanan Kontingen Garuda atau yang dikenal sebagai KONGA. Lebih dari sekadar kumpulan fakta, halaman-halamannya dipenuhi oleh napas langsung para pelaku sejarah. Di dalamnya, para purnawirawan dan keluarga dapat menemukan kembali catatan harian yang sarat kerinduan pada tanah air, foto-foto langka yang membekukan momen persaudaraan di tengah tugas, serta kesaksian yang menggetarkan jiwa tentang nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi: keberanian yang santun, solidaritas khas tentara yang tak tergoyahkan, dan kebanggaan membawa nama Indonesia di panggung internasional. Sebagaimana disampaikan salah seorang penyusunnya yang juga purnawirawan TNI, buku ini bertujuan menorehkan kembali tinta emas sejarah diplomasi militer Indonesia agar tak pernah luntur oleh zaman.
Napak Tilas Nilai-Nilai Luhur di Bumi Kongo
Misi di Kongo bukanlah tugas mudah. Para prajurit Garuda dituntut untuk menjaga perdamaian di tengah situasi yang kompleks, jauh dari sanak keluarga. Dari pengalaman itulah, lahir pelajaran dan tradisi tak ternilai yang menjadi bagian dari DNA prajurit Indonesia. Buku 'Napak Tilas Dharma Bhakti' dengan cermat mengangkat beberapa warisan nilai tersebut, yang di antaranya tercermin dalam:
- Kesetiaan pada Mandat: Komitmen teguh untuk menjalankan tugas perdamaian PBB sebagai wujud pengabdian tertinggi kepada bangsa dan dunia.
- Solidaritas dan Jiwa Korsa: Persaudaraan yang terbangun di antara sesama prajurit, menjadi penopang di saat rindu dan tantangan fisik maupun mental menghadang.
- Keunggulan Diplomasi Bersenjata: Kemampuan untuk tidak hanya unggul secara taktis, tetapi juga dalam membangun hubungan baik dengan masyarakat lokal dan pasukan perdamaian dari negara lain.
- Keteguhan Menjunjung Nama Bangsa: Kesadaran bahwa setiap tindakan di tanah misi adalah cerminan harga diri seluruh rakyat Indonesia.
Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi generasi-generasi Kontingen Garuda berikutnya, menjadikan sejarah militer Indonesia kaya akan teladan pengabdian.
Kehadiran para veteran dan keluarga mereka dalam peluncuran buku tersebut menambah nuansa haru dan kebanggaan yang mendalam. Setiap jabat tangan, setiap tatapan mata yang berkaca-kaca, adalah bukti bahwa ikatan batin pada masa pengabdian itu tetap abadi. Buku ini, dengan demikian, berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kenangan heroik generasi pendahulu dengan semangat generasi penerus, khususnya prajurit TNI masa kini. Ia diharapkan menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering, mengingatkan semua bahwa Dharma Bhakti—pengabdian yang tulus—adalah jiwa dari setiap seragam yang dikenakan.
Sebagai penutup, mari kita bersama-sama menundukkan kepala sejenak, memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada seluruh purnawirawan dan almarhum yang pernah menjadi bagian dari Kontingen Garuda di Kongo. Pengorbanan, keteguhan hati, dan dedikasi tanpa pamrih yang Bapak-Bapak tebarkan di bumi Kongo telah menjadi warisan nasional yang tak ternilai. Setiap kata dalam buku ini adalah persembahan kecil dari bangsa yang besar, sebagai ucapan terima kasih yang tak pernah cukup untuk jasa dan pengabdian yang telah ditorehkan bagi kehormatan dan nama baik Negara Kesatuan Republik Indonesia.